BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pebalap VR46 Ducati, Franco Morbidelli, kembali menjadi sorotan di MotoGP Indonesia 2025. Gaya balapnya yang agresif membuat beberapa rival mengeluh, namun sang “bengal murid Valentino Rossi” menegaskan, dirinya bukan ugal-ugalan tanpa alasan. Semua dilakukan karena tuntutan teknis lintasan dan karakter motor Ducati Desmosedici GP25.
Dalam beberapa musim terakhir, Morbidelli memang dikenal sebagai pebalap dengan insting menyerang tinggi. Namun, setelah sejumlah diskusi panjang dengan Simon Crafar, ketua panel steward MotoGP, Morbidelli menegaskan bahwa semua tindakannya di Mandalika masih dalam batas aman.
“Saya tahu orang menyebut saya ugal-ugalan. Tapi saya tidak membahayakan siapa pun. Setiap manuver saya lakukan dengan perhitungan. Di Mandalika, kalau kau tidak nekat, kau akan tertelan debu dan kehilangan posisi,” ungkap Morbidelli melansir Motosan, Jumat (10/10/2025).
Menurut Morbidelli, gaya balapnya yang terlihat “kasar” di Mandalika sebenarnya merupakan respons terhadap karakter sirkuit yang licin, cepat, dan menuntut reaksi ekstrem di sektor tengah, terutama pada kombinasi tikungan 10-11-12 yang sering menjadi titik adu nyali antarpebalap.
“Lintasan Mandalika punya grip yang berubah-ubah, terutama setelah hujan malam sebelumnya. Untuk bertahan di grup depan, kamu harus berani menutup racing line lawan dan memaksa motor tetap stabil di sudut yang licin. Dari luar mungkin terlihat brutal, tapi di atas motor itu soal bertahan hidup,” jelas Morbidelli.
Ia juga menyinggung bahwa motor Ducati yang ia tunggangi memiliki tenaga besar dan akselerasi agresif, membuatnya harus mengambil sudut masuk lebih tajam agar tidak kehilangan momentum di tikungan lambat.
“Motor ini menuntut gaya berkendara yang agresif. Kalau saya terlalu lembut, saya kehilangan grip depan. Itu bisa lebih berbahaya,” tambahnya.
Baca Juga:
Berulah di MotoGP Indonesia, Franco Morbidelli Bikin Berang Rekan Satu Tim
Morbidelli menegaskan bahwa setiap manuvernya telah melewati batas aman yang disepakati dengan steward MotoGP. Ia bahkan mengaku rutin berdiskusi dengan Simon Crafar untuk memahami sejauh mana ia bisa menekan batas tanpa melanggar aturan.
“Simon selalu mengatakan, jangan menyentuh, jangan memaksa keluar jalur, jangan membahayakan. Saya selalu ingat itu. Jadi kalau ada yang bilang saya terlalu agresif, mungkin mereka lupa bahwa MotoGP bukan balapan parade,” katanya.
Meski sudah menghindari penalti di tiga seri terakhir, keluhan tetap datang dari Fabio Di Giannantonio, rekan setimnya di VR46 Ducati, serta Jack Miller. Keduanya mengaku sempat frustrasi dengan manuver Morbidelli di sprint race dan balapan utama Mandalika.
Namun bagi Morbidelli, itu bagian dari dinamika kompetisi.
“Kami semua ingin menang. Fabio pebalap cepat, Jack juga tangguh. Tapi ini balapan, bukan latihan sore. Kalau saya memberi ruang terlalu besar, maka saya yang akan disalip. Semua orang tahu itu,” ujarnya.
Franco Morbidelli kini berusaha menyeimbangkan reputasinya, tetap garang, tapi tidak lagi sembrono. Ia sadar bahwa label “si bengal murid Rossi” hanya akan membebaninya jika tidak diubah menjadi energi positif.
“Valentino selalu bilang, kecepatan tanpa kontrol itu tidak ada gunanya. Saya berusaha menerapkan itu sekarang, tetap cepat, tetap berani, tapi juga tahu kapan harus berhenti,” katanya mengutip sang mentor.
Fakta bahwa Morbidelli tidak menerima sanksi sama sekali di Grand Prix Indonesia menjadi pembuktian bahwa perubahan itu nyata. Dari pebalap yang dulu sering jadi langganan penalti, kini ia tampil lebih terukur, meski tetap memancing adrenalin penonton.
(Budis)










