BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Arman Tsarukyan, petarung berdarah Armenia yang kini bercokol di peringkat kedua kelas ringan UFC, tengah berada di persimpangan penting kariernya. Setelah batal menjalani duel besar melawan Islam Makhachev awal tahun 2025 akibat cedera, ia kini menanti giliran berikutnya dalam perebutan sabuk juara.
Namun, di tengah penantian itu, Tsarukyan memberikan pengakuan menarik mengenai siapa saja sosok yang menurutnya akan menjadi lawan paling berat.
Dalam sebuah wawancara, Tsarukyan secara jujur menyebut tiga nama, yakni Khamzat Chimaev, Khabib Nurmagomedov, dan Islam Makhachev. Menariknya, ia mengaku bukan soal ketakutan, melainkan rasa hormat atas keunggulan masing-masing petarung.
“Pertama Khamzat Chimaev, kedua Khabib Nurmagomedov, dan ketiga Islam Makhachev,” ungkapnya, dikutip dari Championat.com, Selasa (23/9/2025).
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana Tsarukyan menimbang peluangnya di UFC. Dari ketiga nama tersebut, dua sosok praktis tak mungkin ia lawan.
Chimaev sudah mantap naik ke kelas menengah, sementara Khabib resmi pensiun sejak 2020. Satu-satunya nama yang benar-benar realistis adalah Makhachev, mantan penguasa kelas ringan yang kini mencoba menaklukkan kelas welter.
Baca Juga:
Du Plessis Tumbang, Khamzat Chimaev Jadi Juara UFC dengan Bayaran Fantastis
Meski demikian, Tsarukyan sadar posisi perebutan sabuk UFC bisa berubah dengan cepat. Ilia Topuria, yang kini menyandang gelar kelas ringan, berpotensi menghadapi lawan populer seperti Paddy Pimblett. Hal itu diakui Tsarukyan sebagai manuver yang mungkin dilakukan UFC.
“UFC bisa melakukan apa saja, bahkan menyabung Topuria lawan debutan. Tapi saya pikir lebih ke arah Paddy Pimblett,” ujarnya, seperti dilansir MMAFighting.com.
Tsarukyan menambahkan, jika Makhachev berhasil merebut sabuk welter, kemungkinan besar Topuria juga akan naik kelas untuk mengejar gelar kedua. Skenario itu akan membuka jalan persaingan baru, sekaligus menantang ambisi Makhachev yang berulang kali menegaskan ingin menjadi juara di lebih dari satu kelas.
Bagi Tsarukyan, peta persaingan ini ibarat arena catur. Ia tahu dirinya berada di posisi kuat, namun peluang emas bisa meleset kapan saja jika salah langkah. Karena itu, ia memilih bersikap realistis, menghormati lawan-lawan besar, menunggu momentum tepat, dan mempersiapkan diri menghadapi siapa pun yang ditunjuk UFC.
Dengan sikap seperti ini, Tsarukyan seolah mengirim pesan bahwa ia bukan hanya petarung yang mengandalkan fisik, tetapi juga strategi dan kesabaran dalam menapaki jalur menuju sabuk juara.
(Budis)










