JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Sebuah senjata jenis airsoft gun berwarna hitam bertuliskan “For Argatha” dan “14 Words’ ditemukan di area SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, usai insiden ledakan yang terjadi pada Jumat siang, 7 November 2025.
Meski berbentuk menyerupai senjata api, hasil pemeriksaan memastikan bahwa benda tersebut bukan senjata sungguhan.
“Setelah kami cek, itu hanyalah senjata mainan,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus, saat meninjau langsung lokasi kejadian.
Namun, temuan itu tidak dianggap sepele. Di permukaan senjata tersebut terdapat tulisan-tulisan yang mengandung simbol ekstrem kanan dan nama pelaku teror internasional, yang memicu perhatian publik dan aparat keamanan.
Tulisan Radikal di Senjata Mainan
Beberapa tulisan yang ditemukan di badan airsoft gun itu antara lain “14 Words”, “For Agartha”, dan “Natural Selection”, serta nama-nama Brenton Tarrant, pelaku penembakan dua masjid di Selandia Baru pada 2019, dan Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid di Quebec, Kanada, pada 2017.
Foto senjata tersebut beredar luas di media sosial, menunjukkan detail tulisan putih di atas laras hitam. Polisi kemudian menyita airsoft gun itu bersama sejumlah barang bukti lain dan mengirimkannya ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami menemukan kesesuaian antara beberapa barang bukti yang ada di rumah terduga pelaku dengan benda-benda yang ditemukan di lokasi kejadian,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Sabtu (8/11/2025).
Makna “14 Words”
Mengutip Library of Congress Amerika Serikat, istilah “14 Words” merupakan slogan yang sering digunakan oleh kelompok supremasi kulit putih dan gerakan ekstrem kanan di berbagai negara. Kalimat lengkapnya berbunyi:
“We must secure the existence of our people and a future for white children.”
Slogan ini diciptakan oleh David Lane, anggota organisasi ekstremis Amerika “The Order” pada 1980-an. Angka 14 merujuk pada jumlah kata dalam kalimat tersebut, dan sering kali dikombinasikan dengan angka “88”, simbol neo-Nazi untuk ucapan “Heil Hitler”.
Makna For Argatha
Sementara itu, istilah “Agartha” berasal dari mitologi esoterik kuno yang menggambarkan dunia murni tersembunyi di dalam bumi. Dalam pemikiran kelompok ekstrem kanan modern, Agartha sering diartikan sebagai simbol “tatanan dunia murni” — utopia tanpa keberagaman dan perbedaan ras.
Kedua istilah ini kerap digunakan dalam propaganda digital, grafiti, dan forum daring ekstremis, sehingga kemunculannya di konteks sekolah menjadi indikasi serius adanya paparan ideologi radikal di kalangan remaja.
Baca Juga:
Polisi Telusuri Aktivitas Medsos Terduga Pelaku Peledakan di SMAN 72 Jakarta
Usai Dirawat Intensif, 67 Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Bisa Pulang ke Pelukan Keluarga
Alarm Ekstremisme di Usia Dini
Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, menilai temuan simbol ekstrem kanan di SMAN 72 Jakarta adalah peringatan keras bagi dunia pendidikan nasional.
“Tragedi di SMAN 72 Jakarta harus dicatat sebagai alarm bahwa ancaman ekstremisme kekerasan di usia dini masih besar,” ujar Halili dalam siaran pers, Minggu (9/11/2025).
Ia menambahkan, narasi seperti “For Agartha” dan penyebutan nama-nama pelaku teror dunia menunjukkan bentuk keterpaparan ideologi kekerasan, bukan sekadar ekspresi iseng.
Menurut survei SETARA Institute tahun 2023, sekitar 0,6 persen remaja Indonesia telah terpapar ekstremisme, sedangkan 5 persen lainnya dikategorikan intoleran aktif. Meski tampak kecil, tren ini meningkat signifikan dibandingkan survei 2016.
Halili menegaskan pentingnya penguatan literasi kebangsaan, pendidikan toleransi, dan pencegahan radikalisasi di sekolah.
“Perundungan dan intoleransi di sekolah tidak boleh dianggap sepele. Itu bisa menjadi pintu masuk ideologi kekerasan,” tegasnya.
Kondisi Korban dan Perkembangan Penyelidikan
Polisi melaporkan 96 orang menjadi korban ledakan, dengan 29 di antaranya masih menjalani perawatan medis di berbagai rumah sakit.
Tim gabungan dari Polda Metro Jaya, Densus 88, Puslabfor Mabes Polri, dan Polres Metro Jakarta Utara masih bekerja untuk memastikan sumber ledakan serta kemungkinan adanya motif ideologis di balik peristiwa ini.
Sementara, terduga pelaku yang merupakan siswa SMAN 72 Jakarta telah sadar setelah menjalani operasi di bagian kepala dan kini masih dirawat di ruang ICU.
“Sudah sadar, tapi masih dalam tahap pemulihan fisik dan psikis,” kata Kombes Budi Hermanto.











