BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Bayangkan menyusuri jembatan kayu berkelok di tengah hutan kota, di bawah naungan kanopi pepohonan raksasa, sambil menghirup udara segar yang bebas dari klakson dan kemacetan. Di Bandung, pengalaman itu bukan imajinasi, ia nyata di Babakan Siliwangi, atau yang akrab disebut warga sebagai Baksil.
Di sinilah kota sejenak melambat. Langkah terasa ringan, napas lebih panjang, dan pikiran seolah diberi ruang untuk beristirahat.
Dari Lebak Gede ke Hutan Kota Dunia
Jauh sebelum Bandung dipenuhi gedung modern, kawasan ini dikenal sebagai Lebak Gede, wilayah yang terbentuk dari aliran Sungai Cikapundung ribuan tahun silam. Pada masa Hindia-Belanda, kawasan ini sudah menjadi ruang hijau penting.
Memasuki era 1950-an, geliat komersial sempat mengintai, namun kecintaan warga Bandung terhadap ruang terbuka hijau akhirnya menang. Titik baliknya terjadi pada 27 September 2011, ketika United Nations Environment Programme menetapkan Babakan Siliwangi sebagai Hutan Kota Dunia yang dilindungi.
Prestise kawasan ini terus bertambah. Tahun 2023, Babakan Siliwangi dinobatkan sebagai Hutan Kota Terbaik versi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, lengkap dengan plakat Adipura, sebuah pengakuan nasional atas keberhasilan menjaga ekologi di tengah kota besar.
Forest Walk yang Menyatu dengan Alam
Forest walk Babakan Siliwangi diresmikan pada 17 Januari 2018 oleh Ridwan Kamil. Jembatan kayu–besi sepanjang ± 2 kilometer ini mengikuti kontur alami hutan: naik, turun, berkelok, dan “menghindari” pohon-pohon raksasa yang telah berdiri puluhan hingga ratusan tahun.
Lebarnya sekitar 1,5 meter, dengan ketinggian 3–4 meter dari tanah, dilengkapi pagar hijau setinggi dada dan lantai bertekstur kasar demi keamanan. Karena panjang dan desainnya yang menyatu dengan lanskap, Baksil kerap disebut sebagai salah satu forest walk terpanjang di Asia Tenggara.
Segar Kembali, Lebih Tertata
Setelah sempat tutup sejak September 2025 untuk revitalisasi, Baksil kembali dibuka pada 25 Desember 2025 dengan wajah baru yang lebih rapi dan nyaman.
Pemerintah Kota Bandung mengucurkan dana Rp3 miliar dari APBD untuk tahap pertama perbaikan—memperkuat struktur, memperbaiki jalur, dan meningkatkan kenyamanan pengunjung tanpa menghilangkan karakter alaminya.
Bukan Sekadar Tempat Jalan-jalan
Babakan Siliwangi bukan hanya destinasi, tapi ruang hidup. Tempat me-time, olahraga ringan, hunting foto, healing sunyi, sampai jajan santai, semuanya menyatu alami.
“Kalau lagi bosen aja ke sini, soalnya udara sejuk bikin nenangin pikiran. Selain itu juga, di sini banyak jajanan,” kata Keisha, pelajar asal Bandung.
Baca Juga:
Info Praktis
Lokasi:
Jalan Tamansari No. 73, Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung
(Bersebelahan dengan Institut Teknologi Bandung dan Sasana Budaya Ganesha)
Jam Operasional:
Setiap hari, 08.00–17.00 WIB
Tiket Masuk:
Gratis
Parkir:
Rp2.000–Rp5.000 (tergantung jenis kendaraan)
Kenapa Harus ke Baksil?
Karena Babakan Siliwangi membuktikan bahwa ruang hijau bukan aksesori kota, tapi kebutuhan dasar manusia urban. Di tengah polusi, beton, dan kepadatan Bandung, Baksil adalah pengingat sederhana, bernapas lega tak selalu harus pergi jauh.
Kadang, cukup berjalan pelan di hutan kecil yang masih setia menjaga kota.
(Magang UNPAD/Rifa Rayja Athallah)









