JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengklaim ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah tidak sebesar yang selama ini dikhawatirkan publik.
Ia menyebut porsi impor minyak mentah Indonesia dari kawasan tersebut hanya berkisar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan nasional.
“Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude? Itu totalnya 20% sampai 25%. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25%,” kata Bahlil dalam podcast Bukan Abulake dikutip, Kamis (12/3/2026).
Impor Minyak Indonesia Datang dari Banyak Negara
Menurut Bahlil, Indonesia selama ini tidak bergantung pada satu wilayah tertentu dalam memenuhi kebutuhan minyak mentah.
Pasokan impor crude oil berasal dari berbagai kawasan di dunia, antara lain:
- Afrika
- Angola
- Timur Tengah
- Amerika Serikat
- Brasil
- Australia
- sejumlah negara lainnya
Diversifikasi sumber impor tersebut menjadi strategi penting pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Dengan pola pasokan yang tersebar, potensi gangguan distribusi dari satu kawasan tidak langsung berdampak besar terhadap kebutuhan energi domestik.
Indonesia Tidak Impor BBM Jadi dari Timur Tengah
Bahlil juga menegaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor BBM siap pakai seperti bensin dari Timur Tengah.
Yang diimpor adalah minyak mentah (crude oil) yang kemudian diolah di kilang domestik sebelum didistribusikan sebagai bahan bakar.
Kebijakan tersebut memberikan fleksibilitas bagi pemerintah dalam mengatur sumber pasokan minyak mentah.
Dengan demikian, jika terjadi gangguan pasokan dari satu wilayah, pemerintah dapat segera mengalihkan impor dari negara lain.
Pemerintah Siapkan Pengalihan Pasokan Minyak
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga telah menyiapkan skema pengalihan sebagian impor minyak mentah ke negara lain.
Beberapa wilayah yang menjadi alternatif sumber pasokan antara lain:
- Amerika Serikat
- Angola
- negara-negara di Afrika
- kawasan Amerika Latin
Sebagian wilayah tersebut bahkan telah memiliki keterkaitan dengan investasi perusahaan energi nasional.
“Di mana itu? Yaitu di Amerika, di Angola, apalagi di beberapa negara di Afrika itu, Amerika Latin. Di Afrika itu sebagian punya Pertamina. Jadi itu yang kita geser,” ujar Bahlil.
Baca Juga:
2 Kapal Pertamina Berhasil Keluar dari Zona Konflik Timur Tengah
Perang AS–Israel vs Iran Picu Harga Minyak Dunia Tembus US$104 per Barel
Langkah diversifikasi impor juga menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko geopolitik, termasuk potensi gangguan jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
Selat strategis tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia dari kawasan Timur Tengah.
Namun Bahlil menegaskan bahwa Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi jika jalur tersebut mengalami gangguan.
“Jadi sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25% itu sudah kita alihkan ke negara lain,” kata Bahlil.
Dengan strategi diversifikasi sumber pasokan tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global.
(Dist)











