BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Universitas Padjadjaran tak hanya menjadi pusat pendidikan akademik, tetapi juga ruang hidup bagi regenerasi budaya. Hal itu tergambar dalam pergelaran tunggal bertajuk ‘Wanoja Sadayana Gelar Geunjleung Puspa Karima’ yang digelar di lingkungan kampus Unpad, Bandung, Jawa Barat, Jumat (23 /1/2026).
Berbeda dari pementasan seni pada umumnya, pertunjukan ini menghadirkan satu benang merah kuat: perempuan sebagai simpul utama keberlanjutan seni tradisi Sunda. Sebanyak 16 perempuan pegiat seni dari komunitas Puspa Karima tampil membawakan lebih dari 10 jenis kesenian Sunda, mulai dari Ketuk Tilu, Tarawangsa, Calung, Tayuban, hingga tembang yang diiringi angklung buncis dan petikan rebab.
Rangkaian seni tersebut disajikan tidak sebagai potongan pertunjukan terpisah, melainkan dirangkai sebagai narasi utuh tentang perjalanan budaya Sunda, dimulai dari ritual, hiburan rakyat, hingga ekspresi musikal yang sarat makna.
Pergelaran ini menjadi bagian dari agenda Rumawat Padjadjaran, sebuah program yang mendorong pelestarian budaya berbasis komunitas dan institusi pendidikan. Kehadiran seni tradisi di ruang kampus dinilai penting untuk mempertemukan generasi muda dengan akar budayanya secara langsung, bukan sekadar lewat buku atau ruang kelas.
Baca Juga:
Dalam pementasan Ketuk Tilu dan Tayuban, misalnya, para penari perempuan tampil dengan gestur yang luwes namun tetap berakar pada pakem tradisi. Sementara dalam sajian Tarawangsa, nuansa sakral dan kontemplatif terasa kuat, mengingat kesenian ini kerap berkaitan dengan ritus agraris masyarakat Sunda.
Tak kalah menarik, Calung dan angklung buncis yang dimainkan secara kolektif menghadirkan suasana egaliter, menegaskan bahwa seni tradisi bukan milik masa lalu, melainkan praktik hidup yang bisa tumbuh di ruang modern seperti kampus.
Melalui pertunjukan ini, Puspa Karima tidak hanya menampilkan estetika seni, tetapi juga menyampaikan pesan tentang peran perempuan sebagai penjaga, penerus, sekaligus inovator budaya. Di tengah tantangan modernisasi dan berkurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisi, panggung Wanoja Sadayana menjadi penanda bahwa regenerasi budaya masih menemukan jalannya.
Pergelaran tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung di ruang formal kebudayaan. Kampus, dengan dinamika intelektual dan generasi mudanya, justru dapat menjadi ruang strategis untuk merawat tradisi agar tetap relevan dan hidup.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Robby Nuzula Ramadhan)