BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap banyaknya produk impor jadi yang masuk ke Indonesia telah menyebabkan enam sektor industri dalam negeri terdampak.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif ditemui di Jakarta, Selasa, menyatakan masifnya produk impor mengganggu kinerja enam sektor, yakni tekstil, baja, elektronik, kosmetik, keramik dan alas kaki.
Selain mengganggu kinerja, banjirnya barang impor jadi membuat utilisasi dan produksi industri tersebut tidak maksimal.
”Itu membuat industri di dalam negeri mau produksi banyak berpikir terlebih dahulu. Akhirnya menahan. Harusnya bisa produksi 100, produksi 60 dulu. Takutnya nanti tidak terserap pasar,” jelas Febri, melansir Antara, Rabu (12/11/2025).
Febri menyampaikan, dari enam sektor yang dibanjiri produk impor jadi, baru sektor tekstil yang memiliki aturan terkait pengaturan impor.
Baca Juga:
Kementerian UMKM Akan Tertibkan Masuknya Pakaian Murah Impor dari China
Pedagang Thrifting Keluhkan Soal Larangan Impor Pakaian Bekas
Kemenperin pun mendukung upaya Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menyiapkan skema kemitraan antara pedagang pakaian bekas atau thrifting dan pelaku UMKM.
Untuk pasar domestik, Febri menilai perlu diprioritaskan untuk menggunakan produk dalam negeri dan tidak menggunakan produk impor jadi.
”Membeli produk lokal itu artinya melindungi saudara-saudara kita yang bekerja pada industri itu,” ucapnya.
Terkait sektor industri baja, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan pihaknya tengah memperkuat perlindungan pasar dan menarik investasi baru industri baja.
Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang saat ini 55 persennya dipenuhi melalui impor.
Wamenperin menyatakan saat ini terdapat perbedaan signifikan antara konsumsi baja dengan produksi nasional. Perbedaan tersebut dipenuhi oleh impor yang mayoritas berasal dari China.
China merupakan produsen terbesar dengan produksi baja kasar sebanyak 1,005 miliar ton (53,3 persen produksi dunia), kemudian disusul oleh India dengan total sebanyak 149,4 juta ton (7,9 persen produksi dunia). Adapun Indonesia menempati peringkat 14 dunia di tahun 2024 dengan produksi baja mencapai 18 juta ton.
(Raidi/_Usk)











