BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Di saat rumor mengenai Samsung Galaxy S26 Ultra beredar, sebagian konsumen justru mengambil langkah berbeda: membeli Galaxy S25 Ultra di penghujung 2025. Keputusan ini terlihat berlawanan arus, namun bagi sebagian pengguna, langkah tersebut dinilai paling rasional dari sisi harga, fitur, dan nilai pakai.
Salah satu kreator konten teknologi dari kanal YouTube GadgetBox mengungkapkan alasannya membeli Galaxy S25 Ultra pada Desember 2025, meski menyadari generasi penerusnya diperkirakan akan hadir pada 2026. Ia menyebut pembelian itu sebagai salah satu keputusan paling “worth it” sepanjang tahun.
“Waktu itu harga S25 Ultra sudah turun jauh. Di kisaran Rp15 jutaan, menurut saya itu sulit ditolak untuk kelas flagship,” ujar GadgetBox dalam videonya.
Harga Turun Jadi Faktor Penentu
Berdasarkan pantauan marketplace pada periode Oktober hingga Desember 2025, harga Galaxy S25 Ultra memang sempat turun ke rentang Rp15–15,6 jutaan, jauh di bawah harga rilis resmi yang berada di kisaran Rp23 jutaan. Namun memasuki awal 2026, harga kembali merangkak naik.
Pola ini bukan hal baru di pasar smartphone Indonesia. Menjelang kehadiran seri penerus, harga flagship umumnya melemah sebelum kembali stabil. Bagi pembeli yang masuk di titik terendah, selisih harga ini menjadi keuntungan nyata.
“Kalau dibandingkan harga awal rilis, selisihnya jauh. Secara value, ini lebih masuk akal,” lanjutnya.
One UI, S Pen, dan Galaxy AI Jadi Alasan Utama
Selain harga, faktor antarmuka One UI menjadi pertimbangan besar. Menurut GadgetBox, Samsung masih unggul dalam urusan UI Android dari sisi kelengkapan fitur, stabilitas, dan pengalaman pakai. Kehadiran Samsung DeX juga memperkuat posisi S25 Ultra sebagai perangkat produktivitas karena dapat berfungsi layaknya desktop saat dihubungkan ke layar eksternal.
“Saya suka One UI karena terasa lebih matang dan tidak sekadar meniru iOS. DeX juga jadi nilai tambah besar buat kerja,” kata GadgetBox.
Faktor berikutnya adalah S Pen. Meski ada anggapan fitur S Pen di S25 Ultra mengalami penurunan dibanding generasi sebelumnya, fungsinya tetap dinilai relevan untuk mencatat, menggambar, dan kebutuhan kerja ringan.
“Buat saya, ini sudah cukup. Tidak perlu bawa tablet lagi,” ujarnya.
Yang tak kalah penting adalah Galaxy AI. Fitur seperti Generative Edit, Object Eraser, hingga Audio Eraser di video disebut sangat membantu, terutama untuk kebutuhan konten dan liputan.
“Menurut pengalaman saya, Galaxy AI lebih praktis dipakai. Bukan sekadar gimmick,” ungkap GadgetBox.
Pernyataan ini merupakan pengalaman subjektif narasumber dan bisa berbeda pada tiap pengguna.
Baca Juga:
Samsung Galaxy S26 vs iPhone 17: Adu Strategi Harga di Tengah Krisis Chip Global
Samsung Perkenalkan Monitor Gaming Odyssey 2026, Hadirkan 3D 6K Tanpa Kacamata
Spesifikasi Masih Kelas Atas
Dari sisi spesifikasi, Galaxy S25 Ultra masih berada di papan atas. Layar 6,9 inci Dynamic LTPO AMOLED QHD+ 120 Hz, perlindungan Gorilla Armor 2 dengan lapisan anti-glare, serta kamera utama 200 MP yang didukung ultrawide dan telefoto 50 MP masih tergolong kompetitif di segmen flagship.
Untuk performa, chipset Snapdragon 8 Elite for Galaxy (3 nm) dipadukan RAM 12 GB dinilai lebih dari cukup untuk penggunaan harian. GadgetBox menyebut aktivitas berat tidak membebani perangkat, meski ia tidak memfokuskan penggunaan pada gaming mobile.
Di sektor kamera, ia mengakui masih ada pesaing dengan pemrosesan lebih agresif, namun hasil foto S25 Ultra dinilai tetap bisa dioptimalkan dengan bantuan AI.
Baterai Masih Jadi Catatan
Satu aspek yang masih menjadi catatan adalah baterai 5.000 mAh berbasis lithium-ion, bukan teknologi silikon karbon yang mulai diadopsi sejumlah kompetitor. Untuk penggunaan ringan hingga menengah, daya tahan sehari penuh masih bisa dicapai. Namun untuk aktivitas intens, pengisian ulang tetap diperlukan di malam hari.
Hal ini memunculkan harapan agar Samsung membawa teknologi baterai baru di generasi berikutnya.
S26 Ultra: Masih Rumor, Belum Ada Konfirmasi
Di sisi lain, nama Galaxy S26 Ultra mulai ramai dibicarakan di berbagai forum dan media sosial. Sejumlah bocoran menyebut kemungkinan peningkatan di sektor kamera, AI, dan desain. Namun hingga kini, Samsung belum memberikan pernyataan resmi terkait keberadaan maupun spesifikasi Galaxy S26 Ultra.
Dengan demikian, seluruh informasi terkait S26 Ultra masih berada di ranah spekulasi dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
S25 Sekarang atau Tunggu S26?
Pertanyaan klasik pun muncul: lebih baik beli sekarang atau menunggu?
Bagi pengguna yang mengejar harga terbaik dan perangkat matang, Galaxy S25 Ultra masih dinilai sangat layak di 2026. Spesifikasinya belum tertinggal, fitur produktivitas lengkap, dan ekosistem Samsung sudah solid.
Sebaliknya, bagi pengguna yang ingin berada di garis depan teknologi dan penasaran dengan arah inovasi Samsung berikutnya, menunggu S26 Ultra bisa menjadi opsi. Namun konsekuensinya jelas: harga lebih tinggi dan belum tentu lonjakan fitur signifikan.
Pasar Indonesia Cenderung Realistis
Pola di Indonesia menunjukkan, banyak konsumen lebih memilih membeli flagship satu generasi di bawah saat harga turun, ketimbang membeli seri terbaru di harga puncak. Strategi ini kembali terlihat pada S25 Ultra.
Dalam konteks ini, membeli S25 Ultra di akhir 2025 bukan keputusan nekat, melainkan langkah kalkulatif.
Di tengah isu dan rumor seputar Galaxy S26 Ultra yang belum terkonfirmasi, Galaxy S25 Ultra justru tampil sebagai pilihan rasional. Performa masih kencang, fitur produktivitas lengkap, dan dukungan AI yang benar-benar terpakai membuatnya tetap relevan di 2026.
Sementara S26 Ultra masih menjadi tanda tanya, S25 Ultra sudah memberi kepastian. Bagi konsumen yang mengutamakan nilai, bukan sekadar generasi, keputusan terbaik sering kali bukan menunggu yang paling baru, tetapi membeli yang paling masuk akal.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Fathir Fahrezi Fardiansyah)











