BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Tidak banyak desa yang mampu bangkit dari kondisi nyaris tanpa daya tarik wisata. Namun Desa Bilebante di Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, membuktikan bahwa kreativitas masyarakat bisa mengubah wajah sebuah wilayah.
Berlokasi hanya 15–20 menit dari Kota Mataram, desa ini menyambut pelancong dengan gapura bertuliskan “Selamat Datang di Desa Hijau Bilebante”, sebuah penanda bahwa kawasan hijau dengan 212 hektare persawahan ini telah menjadi kebanggaan baru Lombok.
Di masa lalu, Bilebante hanyalah desa pertanian dengan tambahan penghasilan dari penambangan pasir. Tidak ada pantai, gunung, atau air terjun seperti umumnya pesona alam Lombok.
“Hanya sawah, petani, dan bebek,” ujar Ketua Pokdarwis merangkap Direktur Desa Wisata Hijau Bilebante, Pahrul Azim, dikutip dari laman pemdes Bilebante, Sabtu (6/11/2025).
Namun perubahan mulai terjadi pada 2015 ketika masyarakat mendapat pelatihan dari GIZ dan Bappenas. Di sanalah mereka mempelajari makna desa wisata: menghadirkan pengalaman otentik desa, bukan meniru objek wisata lain.
Kesadaran itulah yang menjadi titik balik Bilebante.
Atraksi pertama lahir dari potensi paling sederhana: jalan desa dan persawahan. Kegiatan gowes keliling desa menjadi proyek percontohan yang menghidupkan Bilebante. Rutenya melewati permukiman warga, hamparan sawah, hingga kawasan komunitas Hindu yang memiliki tradisi berbeda.
Di kawasan ini pula berdiri Pura Lingsar Kelod, situs peribadatan umat Hindu tertua di Lombok Tengah sejak 1822. Musik tradisional bale ganjur kerap mengiringi kedatangan wisatawan—sebuah pengalaman harmonis yang jarang ditemukan di destinasi lain.
Menariknya, wisata gowes ini pernah viral dan mendatangkan wisatawan lokal hingga turis asing.
Transformasi terbesar Bilebante terjadi ketika warga dan komunitas Genpi menciptakan Pasar Pancingan pada 2017. Pasar yang buka setiap Minggu pagi ini memanfaatkan bekas galian pasir sebagai kolam pemancingan dan area hiburan.
Semua lapak dibuat dari bambu dan alang-alang, dengan pedagang berpakaian adat Sasak. Pengunjung berbelanja menggunakan uang kepeng, mata uang tradisional yang bisa ditukar di pintu masuk.
Di sinilah wisatawan bisa mencicipi lebih dari 30 kuliner Lombok, dari ayam merangkat, clorot, hingga plecing kangkung. Sebelum pandemi, pasar ini sanggup menarik 800 pengunjung setiap pekan, angka fantastis untuk desa yang dulunya dianggap “biasa saja”.
Tak hanya wisata budaya, Bilebante berkembang menjadi desa berbasis herbal dan kesehatan berkat kerja sama dengan Martha Tilaar Group. Di kebun herbal seluas 400 meter persegi, terdapat sekitar 200 tanaman obat yang dirawat warga.
Baca Juga:
Desa Wisata Cangkuang, Permata Tenang di Garut yang Tawarkan Wisata Sejarah dan Tradisi Lokal
Salah satu produk unggulannya adalah lemongrass tea, atau serbat, minuman herbal berbahan sereh, secang, kunyit, dan gula aren. Diproduksi dengan merek Mulegati, produk ini mampu menghasilkan pemasukan sekitar Rp10 juta per bulan.
Di area kebun, berdiri pondok-pondok spa menghadap sawah untuk layanan body massage, scrub, refleksi, hingga facial. Para terapisnya adalah warga lokal yang dilatih langsung oleh tim profesional.
Wilayah bekas galian pasir lainnya disulap menjadi Lembah Gardena, taman ekowisata dengan pepohonan rindang, tanaman hias, dan kolam berbentuk hati sebagai spot foto favorit wisatawan.
Tak berhenti di situ, warga mengembangkan kuliner kreatif seperti, serabi rumput laut, keripik tortila berbahan jagung, kolangkaling, dan singkong serta cooking class untuk wisatawan.
Penjualan keripik tortila saja menghasilkan Rp25 juta per bulan, dipelopori UMKM lokal di bawah bimbingan tokoh desa, Zainab.
Dengan homestay seharga Rp175.000–Rp225.000 per malam, Bilebante menerima lebih dari 3.000 wisatawan setiap bulan sebelum pandemi.
Kini Bilebante menjadi salah satu desa wisata unggulan di Lombok Tengah, sekaligus destinasi pendukung ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2022.
Desa Bilebante mengajarkan satu hal: potensi wisata tidak harus datang dari gunung, pantai, atau air terjun.
Kadang, keindahan dan daya tarik justru lahir dari kehidupan sehari-hari, keramahan warga, kreativitas lokal, dan kemampuan masyarakat melihat peluang dari hal yang dianggap biasa.
Bilebante bukan hanya destinasi. Ia adalah kisah tentang transformasi, solidaritas, dan kebangkitan ekonomi desa.
(Budis)






