BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Antusiasme luar biasa menyelimuti XXI Cihampelas Walk (Ciwalk), Bandung, pada Sabtu (30/5/2026), saat para pemeran film Nobody Loves Kai menyapa langsung para penggemar.
Dalam sesi doorstop bersama media, Aurora Ribero, Melati Sesilia, dan Ayastrophille membagikan kisah di balik layar serta pesan mendalam yang ingin disampaikan film ini mengenai fenomena dunia gaming dan esports.
Film yang mengangkat latar belakang dinamika kehidupan generasi muda dan industri gaming ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antar-generasi.
Tantangan Membangun Karakter dan Chemistry
Menyatukan deretan karakter dengan kepribadian yang kontras diakui para pemain sebagai proses yang menarik. Ayastrophille, yang memerankan tokoh Bebe, mengungkapkan bahwa kunci dari solidnya penampilan mereka adalah komunikasi yang intens.
“Bagi aku gak begitu sulit karena aku selalu diskusi dengan director dan cast lain supaya bisa dapat chemistry,” ujar Ayastrophille.
Tantangan berbeda justru dirasakan oleh Aurora Ribero yang memerankan Amanda, sosok siswi pintar yang membantu Kai secara akademik. Aurora mengaku harus mengeksplorasi sendiri latar belakang karakternya yang misterius.
“Lumayan challenging karena porsi Amanda di dalam film itu tidak dijelaskan bagaimana latar belakangnya, dia struggle apa di rumah. Penonton hanya tahu dia di sekolah bagaimana, dia sama Kai gimana. Padahal aslinya di belakang itu dia punya cerita sendiri. Jadi bagaimana caranya aku mengisi semua itu dengan latar belakangnya si Amanda,” jelas Aurora.
Sebaliknya, Melati Sesilia merasa sangat terbantu karena karakter Sinta yang ia mainkan memiliki kemiripan dengan kepribadian aslinya. “Aku cukup mudah karena peran yang aku tampilkan lumayan sama dengan karakter keseharian aku yang centil dan ceria. Jadi lumayan oke dan gampang,” kata eks anggota JKT48 tersebut.
Mengikis Stigma: Esports Bukan Sekadar ‘Main Game’
Nobody Loves Kai secara berani mengeksplorasi value dari dunia gaming yang sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi yang lebih tua. Melati Sesilia, yang juga merupakan Brand Ambassador dari ONIC Esports, menyebut film ini menjadi sarana edukasi yang tepat.
“Menurutku ini memperkenalkan dunia esports sih ke orang-orang yang belum tahu. Rata-rata kan yang mengerti ini Gen Z, sementara untuk ibu-ibu atau eyang-eyang belum paham. Jadi ini untuk membuka mata generasi yang lebih tua bahwa profesi seperti itu ada,” tegas Melati.
Hal senada juga ditekankan oleh Ayastrophille. Ia mengingatkan bahwa menjadi seorang atlet esports membutuhkan dedikasi yang sama besarnya dengan atlet olahraga konvensional.
“Kebanyakan orang itu hanya tahu atlet esports itu yang glamor-glamornya, yang hepi-hepinya. Padahal di balik itu semua, mereka kayak atlet sungguh-sungguh. Ada jadwal latihannya, harus disiplin kayak atlet olahraga lainnya. Jadi yang dilihatnya tuh jangan hanya enaknya,” tambah Ayastrophille.
Sementara itu, Aurora Ribero yang mengaku bukan seorang gamer di kehidupan nyata, justru mendapatkan perspektif baru setelah terlibat dalam proyek ini. “Dengan dunia ini tuh aku jadi sadar kayaknya dunia ini sudah lebih berkembang dan aku jadi mengerti dunia gamers. Ternyata mereka bukan cuma main doang, tapi itu sesuatu yang bisa jadi profesi yang bisa ditekuni,” tuturnya.
Pesan untuk Orang Tua: Dengarkan Anak dan Redam Kekhawatiran
Salah satu konflik kuat dalam film ini adalah bagaimana menyelaraskan ekspektasi orang tua yang sering kali masih terpaku pada prestasi akademik konvensional, dengan minat anak di industri baru seperti pro player.
Melati Sesilia berpesan agar orang tua di zaman sekarang bisa lebih terbuka melihat peluang karier baru. “Zaman sekarang itu banyak banget peluang berkarir yang baru, kayak pro player itu bisa jadi sebuah peluang karir bagi seseorang. Semoga orang tua bisa memahami apakah anaknya bisa komit. Jadi didukung saja potensi dan minat anaknya,” katanya.
Menutup perbincangan, Aurora Ribero dan Ayastrophille menekankan pentingnya komunikasi dua arah dan empati antara anak dan orang tua. Aurora mengajak para orang tua untuk lebih present atau hadir dalam setiap proses perjalanan anak.
“Sebaiknya dengarkan anaknya, being present, dan mencoba hadir dan mendukung anaknya. Mencoba mengerti dari POV (sudut pandang) mereka jadi bisa makin kuat koneksinya. Meski di akhir anak tidak mendapatkan sesuai yang mereka harapkan, tapi setidaknya kita sudah mendukung usaha mereka. Di perjalanan itulah mungkin kita bisa lebih dekat,” katanya.
Ayastrophille pun menambahkan bahwa benturan antar-generasi adalah hal yang wajar karena adanya stigma yang berbeda, namun hal tersebut bisa dijembatani jika didasari rasa kasih sayang.
“Menurutku, kalau ada orang tua yang menolak itu bukan karena mereka gak suka dengan pilihan anak, tapi lebih karena khawatir dengan masa depan mereka, bukan karena gak sayang. Jadi baiknya diobrolin lagi, harus bisa saling merangkul dan mengisi,” tutupnya.











