JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Harga Bitcoin kembali terpukul dan jatuh ke bawah level psikologis US$ 80.000, memperpanjang tren penurunan yang kian menekan pasar kripto global.
Pada akhir pekan ini, aset digital terbesar dunia tersebut diperdagangkan di kisaran US$ 78.931, memicu kekhawatiran lanjutan di kalangan investor.
Pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Pasar kripto merespons kombinasi dua faktor yang selama ini menjadi “musuh alami” aset spekulatif: penguatan dolar AS dan ancaman pengetatan likuiditas global.
Efek Warsh: Ancaman Rezim Baru di The Fed
Menurut laporan Reuters, tekanan terhadap Bitcoin muncul seiring menguatnya dolar Amerika Serikat setelah Kevin Warsh ditunjuk sebagai ketua The Federal Reserve (FED) berikutnya. Penunjukan ini langsung dibaca pasar sebagai sinyal perubahan arah kebijakan moneter AS.
Warsh dikenal sebagai figur yang vokal mendorong penyusutan neraca The Fed dan perubahan rezim kebijakan bank sentral. Bagi pasar kripto, ini bukan kabar baik. Selama lebih dari satu dekade, Bitcoin kerap diuntungkan oleh kebijakan pelonggaran moneter dan injeksi likuiditas besar-besaran.
Ketika likuiditas melimpah, aset berisiko—termasuk kripto—mendapat ruang untuk reli. Sebaliknya, saat bank sentral mulai menarik uang dari sistem, tekanan jual cenderung meningkat.
Bitcoin vs Likuiditas: Hubungan yang Mulai Retak
Chief Economist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai kebijakan moneter AS selama ini justru menahan likuiditas di sistem keuangan, bukan mendistribusikannya ke aset berisiko secara luas.
Menurut Jacobsen, pasar kini mulai bersiap menghadapi fase baru: kripto tidak lagi berada di lingkungan moneter yang ramah. Tekanan tersebut membuat Bitcoin semakin sulit menemukan pijakan teknikal yang kuat.
“Sangat mungkin, bahkan besar kemungkinan, kita akan melihat tekanan jual lanjutan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Jacobsen.
Pernyataan ini menguatkan sentimen bahwa pelemahan Bitcoin belum mencapai titik akhir.
Baca Juga:
Bank Global Bongkar Peta Kripto, Ether Bisa Kalahkan Bitcoin
Kripto Tertinggal, Emas dan Saham Melaju
Dalam konteks makro, pasar kripto terlihat semakin tertinggal. Setelah kejatuhan besar tahun lalu, Bitcoin gagal mengikuti reli signifikan yang justru dinikmati emas dan pasar saham.
Ketika investor global mencari perlindungan di tengah ketidakpastian, arus dana justru mengalir ke aset yang dianggap lebih stabil. Narasi Bitcoin sebagai “emas digital” kembali diuji—dan untuk sementara, kalah telak.
Era Emas Kripto yang Tertunda
Kondisi ini menjadi ironi bagi pasar kripto yang sebelumnya berharap memasuki fase bullish baru di bawah Presiden Donald Trump, dengan ekspektasi arus modal besar dan regulasi yang lebih bersahabat.
Namun realitas berkata lain. Sejak mencetak rekor tertinggi pada Oktober 2025, harga Bitcoin telah kehilangan sekitar sepertiga dari nilainya. Tekanan makro, perubahan arah The Fed, dan ketidakpastian likuiditas global kini menjadi kombinasi mematikan bagi pasar kripto.
Bagi investor berpengalaman, pertanyaannya bukan lagi apakah Bitcoin akan volatil, melainkan seberapa dalam pasar siap menoleransi era likuiditas ketat.
(Dist)











