JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena “udara kabur” terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Istilah yang masih asing di telinga masyarakat Indonesia ini dijelaskan secara rinci oleh BMKG.
Diberitakan sebelumnya, Prakirawan BMKG, Zen Putri, menjelaskan melalui prakiraan cuaca daring, Senin (13/10/2025), bahwa pola cuaca berbeda-beda akan terjadi di seluruh Indonesia.
Putri mengatakan, udara kabur diprakirakan terjadi di Surabaya. Sementara itu, sejumlah kota termasuk Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta berpotensi diguyur hujan ringan.
Mengutip Wikipedia, BMKG memberikan penjelasan terkait udara kabur yang tak lain adalah fenomena kabut asap yang kerap terjadi.
Secara tradisional, kabut asap didefinisikan sebagai fenomena atmosfer di mana partikel-partikel seperti debu, asap, dan zat kering lainnya mengaburkan kejernihan langit.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah mengklasifikasikan berbagai jenis pengaburan horizontal atmosfer. Klasifikasi ini mencakup beberapa kategori utama, yaitu kabut (fog), kabut es, kabut uap, kabut asap (smog), abu vulkanik, debu, pasir, dan salju.
Sumber partikel penyebab kabut asap sangat beragam. Aktivitas pertanian seperti membajak di kondisi cuaca kering dapat menyebarkan partikel debu.
Sumber lainnya berasal dari lalu lintas kendaraan, emisi industri, serta kebakaran hutan yang melepaskan asap dalam jumlah besar.
Dari segi penampakan visual, terdapat perbedaan yang dapat diamati antara kabut asap dan kabut biasa. Jika dilihat dari jarak jauh, misalnya dari pesawat yang sedang mendekati landasan, dan tergantung pada sudut pandang terhadap matahari, kabut asap seringkali tampak berwarna kecoklatan atau bahkan kebiruan.
Sebaliknya, kabut pada umumnya cenderung memiliki penampakan berwarna abu-abu kebiruan. Perbedaan warna ini menjadi salah satu ciri yang membedakan kedua fenomena atmosfer tersebut.
Sementara itu Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menerangkan bahwa udara kabur adalah sebuah istilah dalam prakiraan cuaca yang merujuk pada kondisi menurunnya jarak pandang.
BACA JUGA
BMKG Peringatkan Hujan dan Suhu Panas hingga 35 Derajat Celcius di Beberapa Daerah
Penyebab utama fenomena ini adalah adanya partikel aerosol di atmosfer yang menyerap dan menghamburkan cahaya matahari.
Partikel-partikel ini dapat bersumber dari aktivitas manusia seperti industri, kendaraan bermotor, dan kebakaran, maupun dari sumber alami seperti debu, uap air, dan emisi dari tumbuhan.
Secara visual, ciri-ciri udara kabur adalah langit yang tampak berwarna putih, kekuningan, atau kecoklatan, bergantung pada jenis partikel yang mendominasi. Kondisi ini kadang terlihat seperti kabut tipis yang menyelimuti suatu kawasan.
(Aak)











