BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan dukungan penuh terhadap upaya penanganan darurat dan pemulihan akses pascabencana putusnya jembatan penghubung Desa Toblong dan Desa Sukanegara, Kabupaten Garut, yang terjadi pada Selasa (11/11).
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengataan, Jembatan yang menjadi akses vital bagi aktivitas pendidikan, perekonomian, dan layanan kesehatan warga tersebut ambruk setelah hujan deras berintensitas tinggi menyebabkan debit Sungai Cikaengan meningkat tajam dan menggerus pondasi jembatan. Dampaknya, ribuan warga mengalami hambatan mobilitas, ratusan pelajar terancam tidak dapat bersekolah, dan aktivitas ekonomi masyarakat terhenti.
“Pemerintah Desa bersama aparat setempat segera memasang garis pengaman, sementara BPBD Kabupaten Garut menyediakan tiga perahu karet untuk membantu perpindahan warga secara terbatas,” kata Abdul dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Teropongmedia,Senin (17/11/2025).
Baca Juga:
Curah Hujan Tinggi Akibatkan Jembatan Penghubung Antar Kampung di P
BPBD: Dua Jembatan Rusak di Garut Tidak Sebabkan Warga Terisolasi
Abdulmenjelaskan, Tahap awal penanganan akan difokuskan pada pembersihan material dan puing yang tersangkut di aliran sungai, melibatkan personel gabungan dari BPBD Kabupaten Garut, TNI, Polri, Vertical Rescue, serta warga setempat dengan pendampingan para ahli konstruksi.
“Selanjutnya, pembangunan jembatan gantung darurat dan penguatan tebing sungai menggunakan bronjong akan dilaksanakan secara paralel. Jembatan gantung darurat dibangun menggunakan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) Kabupaten Garut sebesar kurang lebih Rp290 juta dan dirancang dapat difungsikan hingga 10 tahun,” katanya..
Lebih lanjut Ia menjelaskan, sedangkan pekerjaan penguatan tebing sungai dengan bronjong didukung oleh BNPB melalui pendanaan sekitar Rp250 juta sebagai pelengkap kebutuhan yang belum dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah.
“Rangkaian upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama serta memulihkan kembali konektivitas dan ketahanan dua desa yang terdampak,” ungkap Abdul.
Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan perubahan kondisi alam yang dapat menimbulkan bencana susulan, sehingga proses pemulihan dapat berjalan aman, efektif, dan berkelanjutan.
(usamah kustiawan)











