BALI, TEROPONGMEDIA.ID — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, akan melakukan peningkatan free float untuk pengembangan pasar modal pada 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyatakan langkah ini penting untuk memperdalam pasar serta meningkatkan kualitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat ini, tingkat free float BEI tercatat sekitar 7,5%, jauh di bawah negara-negara regional. Kondisi ini menjadi tantangan yang membutuhkan penanganan bertahap agar pasar modal Indonesia lebih likuid dan menarik bagi investor.
“Kita yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan free float. Saat ini BEI baru sekitar 7,5%, masih di bawah regional, dan ini menimbulkan tantangan tersendiri. Kami akan bekerja secara bertahap untuk meningkatkannya,” ujar Inarno dalam acara Media Workshop di Ubud, Bali, Minggu (16/11/2025).
OJK menekankan, kenaikan free float tidak akan dilakukan secara drastis untuk menghindari tekanan bagi emiten. Tahap awal, batas minimal free float untuk IPO baru akan dinaikkan menjadi 10%, kemudian secara bertahap menjadi 15%, dengan target jangka panjang mencapai 25%.
“Mungkin target akhir kita memang 25%, tetapi kita tidak bisa langsung menuju angka itu. Prosesnya bertahap, dimulai dari peningkatan ke 10% dalam waktu dekat,” tambah Inarno.
Pengawasan dan Penegakan Hukum
Selain fokus pada free float, OJK juga memperkuat pengawasan terhadap praktik perdagangan yang berpotensi menimbulkan distorsi harga atau manipulasi pasar. Inarno menjelaskan bahwa OJK bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, BEI, SRO, KPEI, dan KSEI melalui task force lintas lembaga untuk mempercepat pendalaman pasar dan menegakkan hukum secara efektif.
Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola pasar modal, mencegah praktik manipulasi, serta menciptakan iklim investasi yang sehat bagi investor ritel maupun institusional.
Baca Juga:
Menkeu Purbaya Buka 579 Lowongan PNS Kemenkeu 2026, Terbuka Untuk Lulusan STAN dan SMA
Mendorong Pasokan dan Permintaan Instrumen Pasar Modal
Dalam rangka meningkatkan suplai instrumen pasar modal, OJK menargetkan lebih banyak perusahaan besar untuk melakukan IPO, termasuk memperluas instrumen berbasis ESG (Environmental, Social, Governance). Dari sisi permintaan, OJK mendorong partisipasi investor melalui skema systematic investment plan (SIP), sekaligus memperluas basis investor domestik dan institusional.
Jumlah Single Investor Identification (SID) saat ini telah mencapai 19,1 juta, mendekati target 20 juta dalam roadmap 2022–2027. Pertumbuhan ini menjadi indikator meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal Indonesia.
“Kami ingin memastikan bahwa pasar modal tidak hanya dalam ukuran besar, tetapi juga inklusif, memberikan akses bagi investor ritel, institusi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Inarno.
Dampak Ekonomi
Langkah strategis OJK ini diprediksi akan memperkuat likuiditas pasar, meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan, serta mendorong stabilitas harga saham. Dengan free float yang lebih tinggi, investor memiliki lebih banyak saham yang bisa diperdagangkan, memperdalam pasar, dan mendorong harga yang lebih wajar.
Selain itu, peningkatan partisipasi investor domestik diharapkan menurunkan volatilitas pasar akibat fluktuasi investor asing, sekaligus mendorong pertumbuhan jangka panjang di sektor modal.
(Dist)











