BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, denyut budaya kembali terasa kuat di Kabupaten Ciamis. Bukan hanya kesiapan spiritual yang dipersiapkan, masyarakat setempat juga menghidupkan kembali tradisi-tradisi adat warisan leluhur sebagai bagian dari penyambutan bulan penuh berkah.
Rangkaian tradisi ini dikenal sebagai mapag Ramadan, sebuah ekspresi budaya masyarakat (khususnya di Jawa dan Sunda) untuk “menjemput” atau menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan penuh sukacita.
Tradisi ini memadukan nilai religi, sejarah, dan kebersamaan sosial. Lewat berbagai ritual adat, masyarakat Ciamis meneguhkan makna penyucian diri, penghormatan terhadap leluhur, serta penguatan ikatan sosial sebelum memasuki bulan puasa.
Setiap tahun, tradisi ini digelar secara rutin di sejumlah desa dan situs bersejarah. Selain menjaga kelestarian budaya, mapag Ramadan juga menjadi ruang edukasi kultural terutama bagi generasi muda, agar tetap mengenal akar sejarah dan nilai kearifan lokal daerahnya.
Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis mencatat, terdapat enam tradisi budaya yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Februari 2026. Seluruh rangkaian tersebut tersebar di berbagai kecamatan dan melibatkan masyarakat adat, pegiat budaya, hingga warga sekitar.
Baca Juga:
Imlek 2026 dan Ramadan Bertepatan, Pemerintah Gelar Harmoni Nusantara
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026
Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, menilai tradisi mapag Ramadan memiliki makna yang jauh melampaui seremoni adat semata. Ia menekankan adanya nilai refleksi diri dan kesiapan spiritual yang terkandung di dalamnya.
“Intinya bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membersihkan diri. Ada introspeksi, membersihkan hati dan sifat-sifat buruk agar siap menjalani ibadah puasa,” ujar Dian, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi sarana memperkuat jalinan sosial di tengah masyarakat. Momentum menjelang Ramadan dimanfaatkan warga untuk bertemu, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi.
“Momentum ini biasanya dimanfaatkan untuk saling bersilaturahmi dan meminta maaf, sehingga ketika Ramadan tiba, masyarakat sudah merasa lebih ringan dan bersih secara batin,” katanya.
Dian menegaskan, keberadaan tradisi mapag Ramadan merupakan warisan penting dari para leluhur dan ulama terdahulu yang berperan besar dalam perjalanan sejarah Ciamis.
“Tidak akan ada peradaban hari ini tanpa perjuangan para leluhur dan ulama di masa lalu. Tradisi, peninggalan sejarah, dan ritual yang masih dilestarikan ini pada dasarnya adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT,” ujarnya.
Sebagai daerah yang menyimpan jejak sejarah panjang, mulai dari masa prasejarah hingga era kerajaan, Ciamis menjadikan momen Ramadan sebagai ruang hidup bagi kebudayaan lokal. Berbagai ritual adat kembali digelar di situs-situs bersejarah, menghadirkan nilai spiritual sekaligus kebanggaan identitas daerah.
Disbudpora berharap seluruh tradisi mapag Ramadan 2026 dapat berjalan lancar dan terus diwariskan lintas generasi.
“Yang paling terasa, semangat gotong royong di Ciamis masih sangat kuat. Bahkan terus meningkat. Ini yang harus kita jaga bersama,” pungkas Dian.
6 Tradisi Mapag Ramadan di Ciamis 2026
Berikut enam tradisi budaya yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Februari 2026, di antaranya:
1. Nyepuh Ciomas – 4 Februari 2026
Tradisi Nyepuh digelar di Situs Geger Emas, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu. Masyarakat melakukan ziarah ke makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya meneladani nilai keteladanan para pendahulu serta memperkuat kebersamaan sosial.
2. Misalin Cimaragas – 8 Februari 2026
Misalin berlangsung di Situs Bojonggaluh Salawe, Kecamatan Cimaragas. Digelar oleh komunitas adat Kawargian Galuh Salawe, tradisi ini dimaknai sebagai prosesi penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan.
3. Ngikis Karangmulyan – 9 Februari 2026
Berlokasi di Situs Bojong Galuh Karangmulyan, Kecamatan Cijeungjing, tradisi Ngikis menjadi simbol penghormmapagatan kepada leluhur sekaligus upaya memagar hati agar terhindar dari perbuatan tidak baik selama Ramadan.
4. Merlawu Susuru Kertabumi – 9 Februari 2026
Tradisi Merlawu digelar di Situs Prabu Dimuntur, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing. Prosesi dilakukan melalui ziarah makam, penuturan sejarah leluhur, dan diakhiri dengan balaecrakan atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
5. Ngikis Gunung Padang – 12 Februari 2026
Tradisi Ngikis di Situs Gunung Padang, Kecamatan Sindangkasih, diawali dengan kegiatan bebersih lingkungan situs dan dilanjutkan doa bersama. Tradisi ini mencerminkan kepedulian terhadap warisan sejarah sekaligus doa menyambut Ramadan.
6. Nadran Manguntapa – 15 Februari 2026
Nadran digelar di Situs Ki Manguntapa, Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg. Tradisi ini diisi dengan bebersih makam leluhur dan silaturahmi masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya turun-temurun.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Robby Nuzula Ramadhan)











