JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai menggeber konsolidasi besar-besaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari total 1.067 entitas termasuk anak dan cucu usaha jumlahakan dirampingkan menjadi sekitar 250 perusahaan.
Langkah ini bukan sekadar restrukturisasi administratif. Ini adalah operasi efisiensi skala nasional yang akan menentukan wajah BUMN dalam satu dekade ke depan.
Bagaimana Nasib Karyawan?
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam proses merger, konsolidasi, maupun divestasi.
“Tidak akan ada pengurangan tenaga kerja,” ujar Dony, melansir Liputan6 di Jakarta, Rabu (10/2/2026).
Ia menekankan, bahwa BUMN bukan hanya entitas bisnis, tetapi juga instrumen negara dalam menyediakan lapangan kerja. Karena itu, proses konsolidasi dirancang tanpa mengorbankan pekerja.
Menurutnya dalam skema konsolidasi, karyawan akan tetap dibawa ke entitas baru hasil penggabungan. Dengan kata lain, perampingan perusahaan tidak identik dengan pengurangan orang.
1.067 Jadi 250: Efisiensi Tanpa Layoff
Penegasan serupa disampaikan Senior Director Business Performance & Assets Optimization Danantara, Bhimo Aryanto. Ia menyebut konsolidasi dilakukan dengan pendekatan efisiensi struktural, bukan pemangkasan tenaga kerja.
Dari 1.067 entitas, Danantara menargetkan penyederhanaan menjadi sekitar 250 perusahaan. Meski jumlahnya turun drastis, manajemen memastikan tidak ada skema layoff.
Bhimo menjelaskan, opsi seperti golden shakehand memang memungkinkan secara finansial jika dihitung dari sisi Internal Rate of Return (IRR). Namun, pendekatan utama yang dipilih adalah realokasi sumber daya manusia.
Artinya, penataan ulang dilakukan melalui penempatan kembali karyawan sesuai kebutuhan bisnis baru, bukan melalui PHK massal.
Percepatan Target: 2027 Dipangkas Jadi 2026
Awalnya, konsolidasi BUMN ditargetkan rampung pada 2027. Kini, Danantara memangkas tenggat itu menjadi 2026.
Percepatan ini bukan tanpa alasan. Tantangan bisnis dinilai semakin kompleks, baik dari sisi persaingan global, tekanan efisiensi, hingga dinamika geopolitik dan ekonomi digital.
Seluruh BUMN diminta bergerak lebih cepat dan adaptif. Danantara pun mengambil peran aktif mengawal manajemen proyek konsolidasi secara ketat agar tidak melenceng dari target.
Efisien Tapi Tetap Humanis
Secara bisnis, penyederhanaan 1.067 menjadi 250 entitas adalah langkah radikal. Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya di angka, melainkan pada eksekusi.
Efisiensi sering kali identik dengan pemangkasan. Dalam banyak kasus global, restrukturisasi berujung pada pengurangan pegawai. Danantara memilih jalur berbeda: restrukturisasi tanpa PHK.
Jika skema realokasi berjalan efektif, konsolidasi ini bisa menjadi model transformasi BUMN yang agresif sekaligus stabil secara sosial.
Namun jika koordinasi antarlembaga lemah, potensi friksi tetap terbuka terutama dalam penataan ulang jabatan dan struktur organisasi.
Target 2026 sudah dipasang. Mesin konsolidasi sudah dinyalakan. Yang dipertaruhkan bukan hanya angka efisiensi, tetapi juga kepercayaan publik terhadap arah reformasi BUMN.
(Dist)











