BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di lereng Glagah, Banyuwangi, berdiri sebuah desa yang tetap teguh menjaga denyut budaya leluhurnya di tengah gempuran perubahan zaman. Desa Wisata Adat Osing Kemiren bukan sekadar kawasan permukiman, ia adalah benteng hidup yang mempertahankan bahasa, filosofi, hingga laku budaya masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi yang merupakan keturunan Kerajaan Blambangan.
Suku Osing, yang kerap disebut Laros atau Wong Blambangan, adalah sub-etnis Jawa yang memiliki keunikan kuat dari segi bahasa, tradisi, dan identitas mereka banyak dipengaruhi budaya Bali, namun tetap berakar pada bahasa Jawa Pertengahan. Bahasa Osing memiliki ciri khas yang tak dimiliki dialek Jawa lain, seperti diftongisasi khusus dan kosakata yang masih mempertahankan bentuk kuno.
Meskipun kini mayoritas masyarakat Osing memeluk Islam, jejak budaya Hindu-Buddha masih melekat kuat, termasuk tradisi puputan, sebagai simbol perang hingga titik darah penghabisan yang pernah meledak menjadi Puputan Bayu pada 1771.
Sebagai desa adat yang jaraknya hanya 6 km dari pusat Banyuwangi, Kemiren menjadi pusat pelestarian tradisi Osing yang benar-benar hidup, bukan sekadar dipamerkan. Masyarakatnya masih menggunakan bahasa Osing sehari-hari, masih mempertahankan arsitektur rumah kuno, dan masih merayakan tradisi yang sudah ada ratusan tahun.
Baca Juga:
Desa Wisata Jatiluwih, Ikon Pariwisata Kelas Dunia yang Menyatukan Alam, Budaya dan Kearifan Bali
Beberapa tradisi yang menjadi napas Kemiren antara lain:
– Tumpeng Sewu
– Barong Ider Bumi
-Mepe Kasur
-Mocoan Lontar Yusuf
-Festival Ngopi Sepuluh Ewu
-Sanggar Tari Gandrung
Setiap Minggu pagi, Pasar Kuliner Tradisional Kemiren menjadi bukti bahwa tradisi bukan hanya tontonan, tapi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pecel Pitik, Ayam Kesrut, dan kudapan Osing lain tersaji sebagai warisan rasa yang otentik.
Komitmen Kemiren dalam menjaga keasliannya membawa desa ini ke panggung internasional. Pada 17 Oktober 2025, UN Tourism menetapkan Kemiren sebagai bagian dari Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025, menyisihkan ratusan desa dari 65 negara.
Pengakuan global ini bukan sekadar penghargaan, tetapi validasi bahwa budaya yang dijaga sepenuh hati dapat menjadikan desa kecil di kaki gunung sebagai ikon pariwisata dunia.
Bagi masyarakat Osing, tamu bukan sekadar pengunjung, mereka adalah titipan kehormatan. Inilah yang tercermin dalam filosofi adat:
Suguh – memberi suguhan, minimal secangkir kopi.
Gupuh – sigap dan antusias menyambut tamu.
Lungguh – memberikan tempat duduk terbaik.
Filosofi inilah yang melahirkan Festival Ngopi Sepuluh Ewu, ketika ribuan kopi disajikan sebagai simbol keramahtamahan Osing. Meski tidak memiliki kebun kopi luas, Kemiren justru menjadi salah satu pusat budaya ngopi paling enerjik di Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa Kemiren adalah contoh ideal bagaimana desa adat bisa berkembang tanpa kehilangan jati diri.
“Kemiren membuktikan bahwa desa dengan akar budaya kuat dapat maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya, dikutip dari laman pemkab Banyuwangi, Jumat (28/11/2025).
Desa ini menjadi bukti bahwa modernisasi bukan berarti menyeragamkan budaya. Justru, kekuatan identitaslah yang mengantar Kemiren menuju panggung dunia.











