JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Kendati Bahan bakar Minyak (BBM) campuran etanol menjadi solusi ramah lingkungan, justru para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di India mengajukan permintaan kepada perusahaan minyak dan gas agar menyediakan BBM murni tanpa adanya campuran senyawa alkohol itu, khususnya selama musim hujan.
Bukan tanpa alasan, keluhan dari konsumen terkait performa bahan bakar beretanol di kondisi cuaca lembap.
Penyebab BBM Etanol Dikeluhkan di India
Memuat Cartoq yang mengutip The Hindu, keluhan konsumen terhadap campuran bensin dengan etanol semakin meningkat, seiring dengan munculnya berbagai kendala teknis pada kendaraan, terutama ketika kelembapan udara tinggi selama musim hujan.
Masalah ini bahkan menjadi lebih serius di daerah-daerah pesisir yang secara alami memiliki tingkat kelembapan lebih tinggi.
Etanol diketahui bersifat higroskopis, yaitu mudah menyerap air dari udara. Ketika etanol menyerap terlalu banyak air, terjadi pemisahan fase dalam bahan bakar. Akibatnya, di dalam tangki terbentuk lapisan-lapisan terpisah antara air, etanol, dan bensin.
BACA JUGA:
BBM Etanol Jadi Ribut di Indonesia, Toyota Heran
Bolehkah Honda Vario Tenggak BBM Etanol 10 Persen? Pengguna Wajib Tahu
Fenomena pemisahan ini, menurut para pemilik SPBU di India, dapat terlihat secara langsung saat bahan bakar terkena udara terbuka di musim hujan.
“Pada suhu 60 derajat Fahrenheit atau 15,5 derajat Celcius, campuran E10 standar dapat menyerap hingga 0,5 persen kadar air sebelum terjadi pemisahan fase.”
Namun, toleransi tersebut menurun drastis saat suhu semakin rendah, yang umum terjadi selama musim hujan, memperparah kondisi tersebut.
Kelembaban karena Tipikal Wilayah
Kondisi ini diperparah di wilayah pesisir, di mana kelembapan tinggi terus menerus menyebabkan masuknya uap air ke dalam tangki penyimpanan bawah tanah meski sudah tertutup rapat.
Masuknya air ke dalam bahan bakar tidak hanya menurunkan kualitas bensin, tetapi juga berdampak langsung pada performa kendaraan.
Cartoq melaporkan bahwa kandungan air akibat campuran etanol menyebabkan berbagai masalah teknis, mulai dari kerusakan mesin, gangguan pada sistem penguapan bahan bakar, hingga kontaminasi di tangki kendaraan.
Keluhan ini paling sering terjadi ketika proporsi etanol dalam campuran bahan bakar meningkat. Para pemilik SPBU mengaku telah menerima banyak pengaduan dari pelanggan yang merasa dirugikan akibat kerusakan kendaraan yang diakibatkan oleh kualitas bahan bakar.
Sebagai respons atas masalah tersebut, SPBU di Gujarat Selatan telah melayangkan surat kepada Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India. Mereka meminta pengecualian terhadap kebijakan bahan bakar dengan kandungan etanol 20 persen, setidaknya selama musim hujan berlangsung. Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa:
“Dengan etanol 15 persen saja, keluhan tentang kerusakan mesin dan kontaminasi bahan bakar meningkat secara signifikan selama musim hujan dengan kelembapan tinggi.”
Permintaan serupa juga datang dari wilayah pesisir lain seperti Chennai, yang menghadapi tantangan serupa. Para operator SPBU di kawasan tersebut berharap adanya alternatif bahan bakar tanpa etanol yang bisa digunakan selama bulan-bulan hujan.
(Saepul)











