BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Limbah cangkang telur yang selama ini dipandang tidak bernilai kini menjadi peluang ekonomi hijau berkat inovasi mahasiswa Program Studi Teknik Pangan Institut Teknologi Bandung (ITB). Melalui inisiatif bertajuk EggCrate, para mahasiswa ini mengembangkan biokomposit ramah lingkungan berbasis limbah pangan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk startup berkelanjutan.
EggCrate lahir dari kegelisahan tim pengembang terhadap besarnya limbah cangkang telur di Indonesia yang mencapai lebih dari 550.000 ton per tahun. Di sisi lain, meningkatnya permintaan pasar terhadap produk ramah lingkungan membuka peluang bisnis baru yang sejalan dengan prinsip green economy dan ekonomi sirkular.
Berbekal pendekatan sains material, tim EggCrate mengolah cangkang telur menjadi bahan baku bernilai tambah dengan kandungan kalsium karbonat tinggi. Serbuk cangkang telur berukuran mikro kemudian dikombinasikan dengan bioresin alami berbasis tepung tapioka dan gliserol, menghasilkan material biokomposit yang kuat, estetis, dan dapat terurai secara alami.
“Awalnya kami hanya ingin membuktikan bahwa limbah pangan bisa punya nilai ekonomi. Dari situ muncul ide untuk mengembangkannya sebagai produk berkelanjutan yang punya potensi pasar,” ujar Muhammad Raffi Aditya Pradipta, dikutip dari laman resmi ITB, Rabu (24/12/2025).
Sejumlah prototipe telah dihasilkan, mulai dari alat makan seperti sendok, hingga produk hias berbasis do it yourself (DIY). Selain berfungsi sebagai alternatif pengganti plastik, material EggCrate bersifat remoldable, sehingga produk yang sudah tidak terpakai dapat dicetak ulang menjadi produk baru. Konsep ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meminimalkan limbah, dua aspek penting dalam model bisnis ekonomi hijau.
Baca Juga:
Sampah Plastik Terdeteksi Otomatis, Inovasi Mahasiswa UNAIR Raih Best Presentation
Tak hanya fokus pada produk, EggCrate juga mengusung pendekatan value-driven startup dengan mengintegrasikan teknologi digital. Setiap produk dilengkapi QR Code impact tracking yang memungkinkan konsumen melihat dampak lingkungan dari produk yang digunakan, termasuk estimasi pengurangan emisi karbon dan asal material. Transparansi ini menjadi nilai jual tambahan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan.
Meski memiliki potensi komersial, tim EggCrate masih menghadapi tantangan dalam proses produksi, terutama pada skala dan konsistensi material. Keterbatasan alat penggiling untuk menghasilkan serbuk cangkang telur sangat halus serta ketahanan material terhadap suhu tinggi menjadi fokus pengembangan lanjutan sebelum masuk ke tahap produksi massal.
Ke depan, tim EggCrate menargetkan pengembangan formulasi material yang lebih stabil serta membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri, inkubator startup, dan komunitas ekonomi kreatif. Mereka berharap inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai proyek kampus, tetapi dapat tumbuh menjadi startup mahasiswa berbasis ekonomi hijau yang memberikan dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi.
Melalui EggCrate, mahasiswa ITB menunjukkan bahwa inovasi hijau tidak selalu membutuhkan teknologi mahal, melainkan keberanian mengubah limbah menjadi peluang bisnis berkelanjutan.
(Budis)











