BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Optimisme terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mencuat. Sejumlah analis menilai tahun 2026 bisa menjadi momentum kebangkitan, asalkan belanja pemerintah dieksekusi lebih optimal, terutama melalui dua program strategis: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, menegaskan bahwa belanja pemerintah masih menjadi motor paling kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut tahun 2025 sebagai masa transisi yang membuat sejumlah program belum berjalan penuh.
“Jadi kita harapkan sebenarnya untuk tahun depan, dari sisi belanja pemerintah jauh lebih baik,” kata Victor dalam gelaran Indonesia Economic Outlook 2026 di Universitas Indonesia, Depok, dikutip Selasa (25/11/2025).
Menurut Victor, program MBG pada 2025 baru menjangkau sekitar 30 juta penerima, jauh dari target 82,9 juta orang. Begitu pula KDMP yang belum beroperasi nasional. Ia menilai 2026 akan menjadi tahun akselerasi.
“Harusnya nanti tahun 2026 program-program ini bisa lebih cepat dan lebih efektif lagi. Belanja pemerintah ini kita harapkan sebagai driver,” ujarnya.
Dengan implementasi yang lebih matang, kedua program tersebut diyakini dapat memperluas perputaran uang di desa, meningkatkan kualitas SDM, dan menggerakkan sektor UMKM lokal, efek berganda yang signifikan bagi PDB.
Selain belanja pemerintah, Victor turut menyoroti pentingnya pemulihan investasi. Ia berharap investasi BUMN lewat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan penanaman modal swasta kembali bergairah tahun depan.
“Kita harapkan konsumsi membaik, dan investasi dari Danantara maupun swasta juga membaik,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa ekspor Indonesia berpotensi tertekan akibat perlambatan perdagangan global dan tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Dalam kondisi seperti ini, belanja pemerintah menjadi penyangga utama.
Baca Juga:
Selesaikan Utang Whoosh, Menkeu Purbaya Ikut Perintah Prabowo
Dari sisi pemerintah, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, mengungkapkan bahwa kuartal IV-2025 menjadi titik tumpu belanja negara. Ia mencatat lebih dari 33,6% anggaran belanja pemerintah terserap pada periode Oktober–Desember.
“Dengan berbagai akselerasi, minimal 33,6% ini bisa kita capai. Kita harapkan jadi penopang pertumbuhan di kuartal keempat,” ujar Ferry.
Stimulus pemerintah juga hadir melalui momen musiman, Ramadan, Lebaran, hingga Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang meningkatkan belanja masyarakat.
Ferry menambahkan, pemerintah juga menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan BUMN. Jumlahnya mencapai Rp 236 triliun, yang diharapkan menciptakan efek ganda terhadap perekonomian.
Dana tersebut diproyeksikan bisa menambah likuiditas perbankan, mempercepat penurunan suku bunga, dan membuka ruang bagi kredit yang lebih ekspansif.
“Ini kita harapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan kita di kuartal keempat,” kata dia.











