BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Musim 2025 tampak ditulis untuk Aryna Sabalenka. Konsisten, tangguh, dan nyaris tak tersentuh, petenis nomor satu dunia itu melangkah ke WTA Finals Riyadh seolah siap mengukuhkan era kekuasaannya. Namun, di malam penentuan, muncul Elena Rybakina, sosok tenang yang justru mengubah skenario itu menjadi kisah kejutan terbesar di penghujung musim.
Dalam duel final yang menegangkan selama 1 jam 47 menit, Rybakina menumbangkan Sabalenka 6-3, 7-6(4), sekaligus memperpanjang catatan kemenangannya menjadi 11 laga beruntun. Kemenangan ini bukan hanya memberinya trofi WTA Finals pertamanya, tetapi juga memastikan petenis asal Kazakhstan itu menjadi “ratu baru” di penghujung tahun.
“Fokus. Hanya itu yang saya pikirkan. Bahkan di tiebreak saya tidak mau berpikir tentang kemenangan sampai poin terakhir benar-benar selesai,” kata Rybakina, melansir WTA, Minggu (9/11/2025).
Rybakina kini menutup musim dengan tiga gelar, yakni Strasbourg, Ningbo, dan Riyadh serta catatan 58 kemenangan dalam satu tahun kalender. Angka itu menegaskan konsistensi luar biasa dari petenis yang dikenal berwajah dingin namun mematikan di lapangan.
Baca Juga:
Elena Rybakina Bawa Kazakhstan Raih Kemenangan Penting
Sabalenka sendiri, meski kalah, tetap menutup tahun dengan rekor gemilang: empat gelar, termasuk US Open, dan status peringkat satu dunia akhir musim untuk kedua kalinya secara beruntun. Total hadiah uangnya sepanjang 2025 bahkan memecahkan rekor milik Serena Williams yang bertahan sejak 2013.
“Saya sudah memberikan yang terbaik. Dia bermain luar biasa malam ini. Tidak ada kekecewaan. Saya meninggalkan Riyadh dengan kepala tegak,” ujar Sabalenka.
Dengan 13 ace dan pertahanan servis yang nyaris sempurna, Rybakina menampilkan permainan yang tak hanya efisien, tetapi juga dingin dan terukur, ciri khas yang membuatnya dijuluki “Ice Queen” oleh penggemar.
Di balik tenangnya ekspresi wajah, kemenangan ini terasa simbolis: Rybakina menantang tatanan lama dan membuka babak baru di tenis putri.
Ketika musim panjang berakhir di bawah gemerlap lampu Riyadh, justru ketenangan Rybakina yang berbicara paling keras.
(Budis)











