BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyambut baik wacana gerakan sosial “Rereongan Sapoe Sarebu”, yaitu ajakan bagi masyarakat untuk menyisihkan Rp1.000 setiap hari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, gerakan ini dapat menjadi sarana membangun solidaritas sosial dan memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat Bandung. Namun, Erwin menegaskan semangat berbagi sebaiknya tidak berhenti pada angka simbolis semata.
“Gerakan seribu rupiah per hari itu bagus, bisa jadi pengingat bagi kita semua untuk saling membantu. Tapi jangan lupa, ada kewajiban zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan yang memang menjadi hak bagi warga miskin,” kata Erwin, Kamis (9/10/2025).
Erwin menjelaskan, jika seluruh warga Bandung menunaikan zakat dan sedekah secara rutin sesuai ketentuan agama, maka potensi untuk menekan angka kemiskinan di kota ini akan sangat besar.
“Kalau semua warga rutin memisahkan 2,5 persen dari penghasilannya, Masya Allah tabarakallah, banyak sekali warga miskin yang akan terbantu,” ucapnya.
Baca Juga:
Anggota DPR Kasih Paham Dedi Mulyadi Soal Donasi Rp 1.000 Per Hari: Harusnya Inisiatif Masyarakat!
Meski mendukung secara prinsip, Erwin mengingatkan, pelaksanaan gerakan seperti Rereongan Sapoe Sarebu harus disertai dengan pengawasan yang ketat, agar dana yang terkumpul tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
“Setiap kebijakan yang berkaitan dengan uang pasti punya risiko penyelewengan. Karena itu, perlu ada sistem yang transparan dan akuntabel, mulai dari pengumpulan sampai penyalurannya,” tegasnya.
Terkait koordinasi lebih lanjut dengan Wali Kota Bandung mengenai tindak lanjut surat edaran wacana ini, Erwin mengaku belum berkomunikasi secara langsung.
“Untuk kebijakan strategis tentu di bawah Pak Wali. Saya belum sempat komunikasi lebih jauh,” ujarnya.
Menariknya, Erwin mengungkapkan dirinya sudah menerapkan kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan untuk berbagi, bahkan jauh melebihi nilai simbolis seribu rupiah per hari.
“Kalau saya malah bukan seribu. Saya bisa sisihkan sampai 30 persen dari hasil usaha saya,” katanya.
Erwin menilai, wacana “Rereongan Sapoe Sarebu” sejatinya bukan sekadar soal angka, tetapi “panggeuing” pengingat bagi masyarakat Bandung untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama di tengah situasi ekonomi yang masih menantang.
“Menurut saya bagus, karena bisa jadi pengingat agar kita tidak lupa menolong orang lain. Selama dijalankan dengan niat baik dan pengawasan yang jelas, gerakan ini akan membawa berkah,” pungkasnya.
(Kyy/_Usk)











