BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Valencia menjadi panggung perpisahan yang sarat emosi bagi Fabio Quartararo, yang resmi menuntaskan petualangan tujuh tahunnya bersama Yamaha M1, motor yang telah menemaninya melalui suka, duka, hingga puncak kejayaan di MotoGP.
Sejak debut di kelas premier pada 2019, seluruh karier Quartararo dijalani bersama mesin inline-4 milik Yamaha. Kini, menjelang transisi besar pabrikan menuju prototipe V4 untuk MotoGP 2026, sang juara dunia 2021 itu menjalani balapan terakhirnya dengan M1, menutup era yang melahirkan 11 kemenangan, 32 podium, dan satu gelar dunia.
Ironisnya, karier Quartararo di MotoGP mungkin tak pernah terjadi bila Dani Pedrosa tidak memilih pensiun. Keputusan itu membuka pintu bagi Petronas Yamaha SRT untuk merekrut bakat muda Prancis yang saat itu justru dianggap gagal memenuhi ekspektasi di Moto3 dan Moto2.
Quartararo datang sebagai “pemain cadangan”, namun justru menjadi wajah baru Yamaha.
Ketika pertama kali masuk ke Grand Prix pada 2015, Quartararo dijuluki the next Marc Marquez. Namun empat musim penuh rintangan, berpindah tim, dan hanya satu kemenangan Moto2 membuat reputasinya meredup.
Hanya Razlan Razali, bos Petronas SRT yang percaya pada bakat alaminya. Kepercayaan itu terbukti berbuah emas saat Quartararo tampil mengejutkan sejak tes pramusim dengan motor satelit.
Baca Juga:
Fabio Quartararo Ungkap Rahasia di Balik Dominasi Kualifikasi MotoGP
Di Valencia, Quartararo mengingat kembali momen yang paling berkesan dalam kariernya dengan M1. Bukan gelar dunia, melainkan pole position pertamanya di Jerez tahun 2019.
Menurutnya, musim rookie itu lah yang paling membahagiakan.
“Saya menikmati tahun itu bahkan lebih dari tahun ketika saya menjadi juara dunia. Waktu itu, tidak ada tekanan. Jatuh? Tidak apa-apa, Anda sedang belajar. Masuk 10 besar sudah bagus, 5 besar luar biasa, dan podium terasa seperti kemenangan,” ungkap Quartararo, dikutip dari motogp, Selasa (2/12/2025).
Musim rookie itulah yang menegaskan identitas Quartararo yang cepat, berani, dan penuh potensi
Kini, saat Yamaha siap bertransformasi ke mesin V4, Quartararo mengucapkan selamat tinggal pada motor yang telah membentuk seluruh kariernya. Ia adalah satu-satunya pebalap era modern yang meraih seluruh pencapaian besar Yamaha hanya dengan satu jenis motor.
Perjalanan Quartararo selanjutnya bersama prototipe baru Yamaha mulai 2026 akan menjadi bab baru yang dinantikan. Namun bagi banyak penggemar, kisah emasnya bersama M1 akan tetap dikenang sebagai salah satu perjalanan paling emosional dalam sejarah modern MotoGP.
(Budis)











