BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Mungkin bukan perebutan gelar juara dunia, tetapi Fabio Quartararo mengaku duel sengitnya melawan Franco Morbidelli di sprint MotoGP Malaysia terasa seperti momen puncak kariernya dulu. Kedua mantan rekan setim Yamaha itu terlibat dalam duel seru di lap-lap awal sebelum akhirnya Morbidelli finis lebih cepat.
“Rasanya seperti pertarungan perebutan gelar dunia. Kami kehilangan banyak waktu, tapi sudah lama saya tidak menikmati balapan seperti ini. Saya merasa hidup kembali di atas motor,”kata Quartararo melansir MotoGP, Minggu (26/10/2025).
Balapan sprint di Sirkuit Sepang, Sabtu (25/10), menjadi ajang nostalgia bagi dua pebalap yang pernah satu garasi di tim pabrikan Yamaha.
Morbidelli yang kini membela VR46 Ducati memulai dari posisi ketiga di grid, sementara Quartararo start dari posisi keempat.
Begitu lampu start padam, keduanya langsung bersaing ketat sejak tikungan pertama. Morbidelli sempat kehilangan posisi akibat start yang kurang sempurna, sementara Quartararo menekan agresif dan memaksa duel langsung antar dua mantan partner itu terjadi lebih awal.
Baca Juga:
Alex Marquez Dominasi Latihan Bebas MotoGP Portugal
Persaingan semakin panas ketika Joan Mir (Honda) ikut menekan keduanya. Namun, di lap kelima Mir terjatuh, meninggalkan Morbidelli dan Quartararo bertarung memperebutkan posisi terdepan di grup kedua.
“Itu benar-benar seperti dogfight. Saya harus bertahan keras melawan Fabio dan Joan. Setelah Joan jatuh, saya bisa menjauh sedikit, tapi saya terlalu jauh dari Alex (Marquez) untuk mengejar podium,” kata Morbidelli.
Morbidelli akhirnya finis di posisi kelima, namun naik ke posisi keempat setelah Fermin Aldeguer mendapat penalti tekanan ban.
Bagi Quartararo, sprint di Sepang bukan sekadar hasil, melainkan soal sensasi balap yang sempat hilang.
Sejak awal musim, pebalap asal Prancis itu kesulitan dengan performa motor Yamaha yang tertinggal dari Ducati, KTM, dan Aprilia. Namun, duel melawan Morbidelli memberinya kembali semangat kompetitif yang lama tak ia rasakan.
“Sudah lama saya tidak merasakan adrenalin seperti ini. Kami memang kehilangan banyak waktu di pertarungan itu, tapi sensasinya luar biasa, seolah ini lap terakhir perebutan gelar. Saya menikmatinya sepenuhnya,” ujarnya.
Quartararo akhirnya finis di urutan keenam, dua detik di belakang Morbidelli. Meski tak mampu menembus grup depan, ia menganggap hasil itu sudah maksimal dengan kondisi M1 yang ia tunggangi saat ini.
“Ini posisi terbaik yang bisa kami raih hari ini. Saya cukup puas. Setidaknya kami menunjukkan bahwa kami masih bisa bertarung, bahkan melawan Ducati sekalipun,” kata El Diablo dengan nada realistis.
(Budis)









