BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau langsung kegiatan Siskambling Bencana yang digelar di Kantor Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Lengkong, Selasa (7/10/2025). Dalam kunjungan tersebut, Farhan tak hanya membahas kesiapsiagaan bencana, tetapi juga menyoroti persoalan klasik yang masih menghantui Kota Bandung yaitu pengelolaan sampah.
Di hadapan warga dan aparat kelurahan, Farhan menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari lingkungan terkecil, yakni di tingkat RW. Menurutnya, pengelolaan sampah mandiri di RW kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar inisiatif tambahan.
“Kenapa tempat pengelolaan sampah di RW jadi penting? Karena mulai bulan ini, kuota sampah kita yang diangkut ke Sarimukti berkurang 300 ton,” kata Farhan.
Ia menjelaskan, selama ini Kota Bandung memiliki jatah sekitar 300 ton sampah per hari yang dapat dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Namun, kapasitas itu kini dipangkas menjadi separuhnya.
“Sebelumnya sudah 300 ton, sebetulnya bisa pulih kembali itu perhitungannya Januari 2026. Per hari ini kita 150 ton per hari bisa mengolah, kita menambah kapasitas sampai Januari 300 ton tetapi itu belum tercapai,” ujarnya.
Baca Juga:
Wali Kota Farhan Akui Masih Ada Kawasan Kumuh di Kota Bandung
Raksasa Tekstil Bandung SBA Textile Dinyatakan Pailit, Kemenaker Ungkap Soal PHK Massal
Ada potensi penumpukan sampah
Farhan mengakui bahwa kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penumpukan sampah di berbagai titik kota, terutama jika pengelolaan di tingkat warga belum optimal.
“Sehingga dikhawatirkan akan ada penumpukan sampah di Kota Bandung sampai maksimum 600 ton per hari,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Farhan juga mendorong agar masyarakat memperkuat budaya gotong royong melalui program Siskambling Bencana, termasuk dalam penanganan sampah.
Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari mitigasi bencana non-alam seperti banjir dan penyakit menular.
Pemkot Bandung sendiri tengah berupaya menambah kapasitas pengolahan sampah lokal melalui berbagai skema. Termasuk bank sampah, TPS 3R, dan teknologi pengolahan mandiri.
Farhan menekankan bahwa solusi jangka pendek tetap terletak pada kesadaran warga untuk memilah dan mengelola sampah di rumah masing-masing.
(Hafidah Rismayanti/Aak)











