BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Di tengah kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, kasus bullying justru semakin sering terjadi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Fenomena ini seolah menjadi cermin bahwa empati manusia perlahan mulai memudar. Padahal, satu kata yang salah bisa meninggalkan luka yang tak terlihat, tapi sangat terasa.
Lebih dari Sekadar Ejekan
Bullying bukan hanya soal kekerasan fisik. Ia bisa datang lewat kata-kata tajam, candaan yang merendahkan, atau perlakuan yang mengucilkan seseorang dari lingkungannya.
Di era media sosial, bentuknya bahkan semakin kompleks, mulai dari komentar jahat, penyebaran foto tanpa izin, hingga sindiran di kolom komentar.
Banyak korban memilih diam. Mereka tampak tegar di luar, namun menyimpan luka di dalam. Tidak jarang, dampaknya meluas seperti menurunnya semangat belajar, kehilangan rasa percaya diri, gangguan kecemasan, bahkan depresi yang berkepanjangan.
Mengapa Bullying Terjadi?
Ada banyak penyebab di balik perilaku bullying. Beberapa pelaku melakukannya untuk mencari perhatian, menunjukkan kekuasaan, atau sekadar mengikuti tekanan kelompok.
Sementara itu, masyarakat yang masih menganggap ejekan sebagai “candaan biasa” justru memperparah situasi.
Di dunia digital, bullying bahkan lebih sulit dikendalikan. Hanya dengan satu unggahan, pelaku bisa mempermalukan seseorang di hadapan ribuan orang, dan berbeda dengan luka fisik, jejak digital sulit benar-benar hilang.
Menurut Dr. Lina Miftahul Jannah, dosen Universitas Indonesia, cyberbullying tergolong sebagai segala bentuk perilaku yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain melalui interaksi digital.
Ia menegaskan bahwa dasar utamanya adalah karena masyarakat tidak memiliki literasi digital yang baik. Pernyataan ini menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran dan kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak menjadi akar dari banyak kasus perundungan digital.
Diam Bukan Berarti Aman
Salah satu kesalahan terbesar dalam menghadapi bullying adalah memilih diam, termasuk di era digital saat ini. Sikap pasif justru membuat perilaku itu terus berkembang.
Ketika kita melihat seseorang diperlakukan tidak adil, keberanian untuk menegur, melapor, atau sekadar memberi dukungan bisa menjadi bentuk perlawanan yang berarti.
Kita semua punya peran, baik sebagai teman, guru, keluarga, maupun pengguna media sosial. Tidak harus menjadi pahlawan, cukup jadi manusia yang peduli.
BACA JUGA
Mahasiswa Unud yang Terlibat Perundungan Kematian Timothy Terancam DO
Tekan Kekerasan di Sekolah, Pemkot Bandung Luncurkan Program Zero Bullying untuk SD dan SMP
Bangun Budaya Empati
Solusi jangka panjang untuk menghapus bullying adalah dengan menumbuhkan budaya empati. Mengajarkan anak muda untuk memahami perasaan orang lain, berhenti menilai dari penampilan, dan belajar menahan diri sebelum menulis komentar di media sosial.
Semua pihak perlu mengingat bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Sedikit kebaikan bisa memberi harapan besar bagi yang terluka.
(Risdawati/Magang UNLA/Aak)










