BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Lewis Hamilton datang ke Ferrari dengan satu misi besar: menutup kariernya dengan kisah paling romantis di Formula 1. Namun musim 2025 justru berubah menjadi ujian paling berat dalam perjalanan sang juara dunia tujuh kali.
Bukan soal gelar yang gagal diraih, melainkan tentang realitas pahit dari sebuah transisi besar. Hamilton harus beradaptasi dengan kultur Ferrari, karakter mobil yang sangat berbeda, serta dinamika internal tim yang telah lama dibangun di sekitar Charles Leclerc. Di tengah semua itu, hasil di lintasan tak kunjung berpihak.
Untuk pertama kalinya sepanjang karier F1-nya, Hamilton menyelesaikan satu musim penuh tanpa naik podium. Sebuah statistik yang terasa kontras dengan statusnya sebagai legenda hidup olahraga ini. Sementara Leclerc mampu memaksimalkan SF-25 untuk tujuh podium, Hamilton kerap tertahan di posisi empat hingga enam, cukup kompetitif, namun jauh dari standar yang ia tetapkan sendiri.
Hamilton sempat menunjukkan kilasan kualitasnya lewat kemenangan sprint di GP China dan podium sprint di Miami. Namun format sprint tidak pernah menjadi tolok ukur utama dalam Formula 1. Yang tersisa adalah pertanyaan besar: apakah Ferrari benar-benar memberi platform yang tepat bagi Hamilton untuk bersaing di level tertinggi?
Baca Juga:
Persaingan Era Baru Formula 1 Dinilai Hanya Milik McLaren dan Mercedes
Situasi ini diperparah oleh performa Ferrari secara keseluruhan. Scuderia gagal menjaga konsistensi dan harus rela turun ke posisi keempat klasemen konstruktor. Proyek besar yang diharapkan menjadi langkah terakhir menuju gelar kedelapan justru terlihat belum matang.
Yang paling mencolok bukan hanya hasil, melainkan cara Hamilton meresponsnya. Ia tampil lebih terbuka dari biasanya, mengakui kesulitan teknis dan tekanan mental yang ia alami. Bagi sebagian pengamat, ini bukan tanda menyerah, melainkan refleksi dari pebalap yang sadar waktunya kian terbatas.
Musim 2026 kini menjadi titik krusial. Regulasi baru akan menghapus banyak referensi masa lalu dan membuka ulang peta kekuatan. Bagi Hamilton, ini bisa menjadi peluang terakhir untuk menulis ulang narasi Ferrari atau justru momen untuk menutup bab Formula 1 dengan kepala tegak.
Hamilton belum berbicara soal pensiun. Namun satu hal jelas, musim 2025 bukan sekadar tahun tanpa podium, melainkan fase penentuan apakah kisah Lewis Hamilton di Ferrari akan berakhir sebagai tragedi atau kebangkitan yang terlambat.
(Budis)










