BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Ketidakstabilan Ferrari musim ini mendapat sorotan dari legenda Formula 1 Ralf Schumacher. Mantan pebalap Formula 1 itu memberi peringatan keras kepada Charles Leclerc agar tidak terseret terlalu jauh dalam situasi yang menurutnya semakin tidak terkendali di Maranello.
Ferrari, yang menutup musim lalu hanya berjarak tipis dari McLaren dalam perebutan posisi kedua konstruktor, justru anjlok musim ini. Kehadiran Lewis Hamilton yang semula diyakini bakal menghidupkan ambisi gelar, tak mampu mengubah nasib tim. Sebaliknya, Ferrari tercecer di posisi empat klasemen konstruktor dan praktis tak pernah terlibat dalam perebutan kemenangan.
Di tengah performa yang mengecewakan, tekanan internal ikut memanas. Chairman Ferrari, John Elkann, secara terbuka mengkritik para pebalapnya yang menurutnya lebih banyak bicara ketimbang membuktikan prestasi di lintasan. Kritik itu disebut-sebut menciptakan jarak emosional di dalam tim, membuat suasana kerja semakin tegang.
Dari situ, muncul narasi baru, sebagian pihak di internal Ferrari, termasuk figur yang dekat dengan manajemen, mulai menilai bahwa Leclerc mungkin lebih baik pergi demi perkembangan kariernya. Ada yang beranggapan bahwa Leclerc “terlalu bagus untuk situasi Ferrari saat ini,” dan masa depannya bisa lebih cerah jika ia berada di tim yang mampu memberi mobil kompetitif sejak awal musim.
Baca Juga:
Charles Leclerc Siap Tinggalkan Ferrari? Bocoran Klausul Kontrak Bikin Geger!
Dalam wawancaranya dengan Sky Sports Germany, Schumacher seolah memperkuat sentimen itu. Ia menilai Leclerc sebenarnya tampil konsisten dan impresif, tujuh podium musim ini menjadi buktinya. Namun semua performa tersebut tidak dibarengi paket mobil yang mendukung.
“Jika saya berada di posisi Leclerc, saya akan mulai mempertanyakan tujuan semua ini. Ia sudah memaksimalkan dirinya dan tim. Ia sosok yang cocok untuk Ferrari, tetapi situasinya tidak membaik,” ujar Schumacher, dikutip Rabu (19/11/2025).
Schumacher menambahkan bahwa pengalaman masa lalunya mengajarkan satu hal penting, setiap pebalap harus punya rencana cadangan. Ia khawatir Leclerc terlalu percaya diri bahwa Ferrari akan bangkit, padahal tanda-tandanya belum terlihat.
“Saya tidak akan membiarkan diri saya dibutakan oleh situasi seperti ini. Di masa saya balapan, saya selalu punya rencana B. Saya sarankan Leclerc melakukan hal yang sama,” tegasnya.
Dengan musim yang semakin menipis dan tren performa Ferrari yang tak menunjukkan pemulihan, spekulasi mengenai masa depan Leclerc pun kian menguat. Beberapa analis bahkan meyakini bahwa tekanan yang mendorongnya untuk mengakhiri era Ferrari mungkin akan semakin besar, terlebih jika Maranello kembali gagal menjadi penantang gelar.
Keputusan Leclerc dalam satu atau dua musim ke depan bisa menjadi penentu arah kariernya di Formula 1—apakah tetap bertahan demi harapan jangka panjang di Ferrari, atau mengambil langkah besar menuju tim yang benar-benar siap membawa dirinya menjadi juara dunia.
(Budis)









