JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Masuknya TikTok sebagai mitra konten resmi FIFA World Cup 2026 bukan sekadar kolaborasi bisnis biasa. Namun peringatan keras bagi televisi, termasuk TV nasional Indonesia yang selama puluhan tahun menyiarkan Piala Dunia.
Secara hukum dan kontrak, hak siar Piala Dunia 2026 memang belum berpindah tangan. Televisi masih memegang kendali atas siaran penuh 90 menit dari kick-off hingga peluit akhir. Namun di era digital, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menyiarkan, tapi siapa yang ditonton.
Dan di titik inilah TikTok menjelma menjadi ancaman nyata bagi industri televisi.
Piala Dunia Tak Lagi Ditonton, Tapi Dikonsumsi
Bagi generasi muda Indonesia, Piala Dunia mungkin bukan lagi soal duduk 90 menit di depan TV. Karena mereka cukup melihat gol, Menonton reaksi pemain, menyimak drama VAR Scroll highlight 30 detik di tiktok melaluai lauar ponsel mereka.
Tanpa sadar, emosi Piala Dunia pun sudah terwakili, meski pertandingan penuh tak pernah mereka tonton.
Televisi masih menayangkan laga. Tapi TikTok menguasai momen.
Rating TV vs Atensi Digital
Selama puluhan tahun, Piala Dunia adalah “harta karun” rating TV. Iklan mahal, prime time penuh, dan dominasi absolut. Namun pada 2026, situasinya berubah.
Lewat dominasis total layar smartphone, TikTok datang dengan 1 miliar lebih pengguna aktif, algoritma agresif, engagement real-time dan pastinya monetisasi berbasis interaksi, bukan durasi.
Artinya, pengiklan kini punya pilihan. Bahkan bagi brand yang menyasar Gen Z dan milenial, TikTok lebih relevan daripada TV nasional.
Jika tren ini berlanjut, TV Indonesia masih akan menayangkan Piala Dunia tetapi uang iklannya tidak lagi eksklusif milik mereka.
Hak Siar Aman, Pengaruh Terancam
Paradoks besar pun harus dihadapi TV Indonesia, mungkin hak siar aman mereka dapatkan tetapi pengaruhnya akan terasa sangat menurun.
Televisi mungkin masih menjadi pemegang lisensi resmi, tapi bukan lagi pusat pengalaman menonton. Piala Dunia tetap hidup, hanya saja denyutnya kini menyebar ke layar ponsel.
Dan yang paling berbahaya adalah ketika penonton muda tidak merasa kehilangan TV.
Baca Juga:
TikTok Jadi Mitra Resmi FIFA World Cup 2026, Bisa Nonton Piala Dunia Full?
Adaptasi atau Mati
Kolaborasi FIFA–TikTok seharusnya tidak dilihat semata sebagai ancaman, tetapi juga cermin. Jika TV Indonesia tetap bertahan dengan pola lama dengan menunggu penonton datang, maka mereka akan kalah oleh platform yang menjemput penonton lebih dulu.
Akhirnya televisi pun harus adaptif dengan aktif hadir di platform digital, mengintegrasikan siaran dengan media sosial dan mengubah TV dari media tontonan menjadi ekosistem konten.
Jika tidak, Piala Dunia 2026 bisa menjadi momen pahit dimana TV menayangkan, TikTok menikmati dampaknya.
Siapa yang Sebenarnya Menang?
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 tetap akan ditonton jutaan orang Indonesia. Tapi pertanyaannya: Apakah mereka menontonnya di TV atau hanya merasakannya lewat TikTok?
Jika televisi nasional tidak segera bertransformasi, peran sentralnya dalam budaya menonton sepak bola Indonesia bisa hilang pelan-pelan tanpa disadari, tanpa disesali.
*Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis dan tidak mencerminkan kebijakan redaksi Teropong Media.
(Dist)











