BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Di tengah krisis ekonomi, kenaikan biaya hidup, dan gempuran budaya konsumtif, semakin banyak generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, yang beralih ke gaya hidup frugal living, yaitu pola hidup hemat dengan pengeluaran yang lebih bijak.
Fenomena ini tak hanya menjadi tren sesaat, tetapi mulai berkembang menjadi gaya hidup sadar yang berfokus pada nilai dan makna konsumsi.
Sebuah laporan menyebut bahwa Gen Z di Indonesia mulai menerapkan kebiasaan hemat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal belanja daring, hiburan, dan transportasi.
Generasi ini dinilai lebih selektif, mengutamakan fungsi dibandingkan merek, serta menunda pembelian barang yang tidak mendesak.
Istilah frugal living sendiri merujuk pada pola hidup yang mengutamakan efisiensi dan kesadaran finansial. Bukan sekadar menahan diri dari berbelanja, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu mengatur keuangan secara disiplin dan menempatkan prioritas pada kebutuhan esensial.
Beberapa ciri penerapan frugal living mencakup membuat anggaran bulanan, memasak sendiri dibanding makan di luar, mencari diskon atau promo, dan menghindari pembelian impulsif.
Dalam konteks sosial ekonomi, tren ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta meningkatnya literasi keuangan di kalangan muda.
Media sosial juga berperan besar—melalui platform seperti TikTok dan Instagram, banyak konten kreator membagikan tips hemat, catatan keuangan, dan gaya hidup minimalis yang menginspirasi pengikutnya.
Gaya hidup ini membawa sejumlah manfaat, antara lain stabilitas keuangan yang lebih baik, pengurangan stres akibat konsumsi berlebihan, dan kesadaran lebih besar terhadap kebutuhan esensial.
Namun, tantangan tetap ada. Tekanan sosial untuk tampil mewah, pengaruh media sosial (FOMO), serta kebiasaan konsumtif yang sudah mengakar membuat sebagian orang kesulitan mempertahankan gaya hidup hemat dalam jangka panjang.
BACA JUGA
50 Quote Sumpah Pemuda 2025 yang Gen Z Banget, Cocok untuk Caption di Sosial Media
Bukan Sekadar Beres-beres, Detoks Ruang Kini Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda
Tren frugal living juga memberi sinyal penting bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan. Konsumen muda kini lebih tertarik pada produk yang memiliki nilai tambah, transparan, dan tahan lama.
Bagi perusahaan, ini berarti pentingnya membangun citra merek yang relevan dengan kesadaran ekonomi generasi baru—yang tak hanya mencari harga murah, tetapi juga kualitas dan kejujuran merek.
Pada akhirnya, frugal living bukan sekadar strategi bertahan hidup di tengah inflasi dan krisis ekonomi, tetapi bentuk kesadaran baru dalam memaknai uang dan kebahagiaan. Hidup hemat bukan berarti kikir, melainkan cara untuk hidup lebih tenang, terencana, dan berkelanjutan.
Jika dijalankan dengan konsisten dan seimbang, gaya hidup ini bisa menjadi fondasi keuangan yang kuat sekaligus membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna di tengah dunia yang semakin konsumtif.
(Vischa Leonita/Magang UNLA/Aak)










