BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kegagalan Max Verstappen merebut gelar juara dunia Formula 1 2025 tidak serta-merta menghapus pengaruh dan wibawanya di lintasan. Justru sebaliknya, musim ini memperlihatkan sisi lain sang juara empat kali dunia: ketangguhan mental dan daya juang yang membuatnya tetap disegani, bahkan saat berada di posisi tertekan.
Gelar memang akhirnya jatuh ke tangan Lando Norris, namun perjalanan Verstappen sepanjang musim menjadi kisah yang tak kalah mencolok. Setelah Grand Prix Belanda, pembalap Red Bull itu tertinggal hingga 104 poin—jarak yang secara matematis nyaris mustahil dikejar di era Formula 1 modern. Banyak pihak mulai menganggap persaingan telah selesai.
Sedikit demi sedikit, ia memangkas ketertinggalan, memanfaatkan setiap peluang saat Red Bull mulai menemukan kembali performanya. Hingga balapan terakhir di Abu Dhabi, selisih poin menyempit menjadi hanya dua angka—sebuah tekanan besar yang memaksa Norris bertarung hingga lap terakhir musim.
Baca Juga:
Tak Tertekan Perebutan Gelar, Max Verstappen: Kalau Gagal Juara, Saya Tetap Liburan
Pembalap senior Belanda, Tom Coronel, menilai musim 2025 justru menjadi etalase terbaik karakter Verstappen. Bukan karena jumlah kemenangan, melainkan karena cara ia bertahan di tengah situasi sulit.
“Yang kita lihat musim ini adalah versi Max yang paling dewasa. Dia tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan, tapi juga ketenangan dan insting untuk bertahan hidup dalam tekana,” ujar Coronel dikutip dari formula1, Senin (15/12/2025).
Coronel menyoroti peran Verstappen di dalam tim Red Bull yang sempat diguncang dinamika internal. Saat performa mobil tidak konsisten dan tekanan eksternal meningkat, Verstappen disebut menjadi figur sentral yang menjaga fokus tim tetap utuh.
Kemenangan Verstappen di balapan penutup musim pun menjadi simbol perlawanan terakhir. Start dari pole dan finis terdepan di Abu Dhabi bukan sekadar angka statistik, melainkan pesan tegas bahwa dirinya belum tergeser dari puncak kualitas pembalap Formula 1.
Meski Norris keluar sebagai juara dunia, musim 2025 meninggalkan satu kesan kuat: Verstappen mungkin kalah dalam perhitungan poin, tetapi tidak dalam pertarungan mental. Dan di Formula 1, reputasi seperti itu sering kali bertahan lebih lama daripada trofi.
(Budis)










