BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID – Di lereng Merapi, nama Desa Sidorejo kerap disebut dengan nada kagum. Udara dingin, jalur treking menuju Deles Indah, serta lokasi-lokasi camping yang menghadap langsung ke tubuh gunung menjadi alasan orang-orang datang. Merapi hampir selalu hadir sebagai latar dalam foto, dalam cerita perjalanan, juga dalam ingatan mereka yang pulang membawa rasa tenang. Gunung itu berdiri megah, seolah cukup untuk menjelaskan segalanya tentang Sidorejo.
Namun desa ini menyimpan sesuatu yang tak bisa ditangkap kamera. Sesuatu yang tidak selalu hadir, tidak berkilau, dan tidak menunggu untuk dipamerkan. Di balik pesona alam yang kerap dijual sebagai daya tarik wisata, Sidorejo menyimpan denyut budaya bernama Gedrug Merapi, kesenian yang hidup sunyi, nyaris tak terdengar oleh telinga para pelancong.
Bagi warga Sidorejo, Merapi bukan sekadar panorama. Ia adalah tetangga lama. Kadang ramah, kadang menakutkan, tetapi selalu dihormati. Hidup di kaki gunung api berarti belajar berdamai dengan ketidakpastian. Bertani di tanah kering, beternak, mencari pasir, dan menjalani ritual spiritual adalah keseharian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari relasi panjang inilah Gedrug Merapi lahir bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai cara bercerita.
Kesenian yang Tumbuh dari Tanah, Bukan Panggung
Gedrug Merapi tidak lahir dari ruang latihan atau panggung kesenian. Ia tumbuh dari kegelisahan warga yang ingin memiliki ekspresi budaya yang jujur—yang benar-benar mencerminkan siapa mereka. Tidak ada ambisi kemegahan. Tidak ada tuntutan teknik tinggi. Gerakannya sederhana, bahkan kasar, karena ia diciptakan agar dapat dilakukan siapa saja. Dalam Gedrug Merapi, tubuh menjadi bahasa, dan keseharian menjadi narasi.
Tarian ini mengalir mengikuti siklus hidup warga Sidorejo. Ia dibuka dengan pagi hari: langkah kaki yang mantap menuju ladang, ayunan tangan seperti mencangkul, tubuh yang bergerak mengikuti ritme kerja. Hentakan kaki para penari terasa berat, membumi, meniru langkah petani yang menyusuri medan berbatu di lereng gunung. Setiap gerak lahir dari pengalaman nyata, bukan imajinasi artistik semata.
Rangkaian gerakan kemudian beralih pada rutinitas lain: membawa pakan ternak, beristirahat sejenak, lalu kembali bekerja. Di sela-sela kerja keras itu, muncul gerakan yang menandai peribadatan. Sebuah pengingat bahwa hidup di bawah bayang-bayang Merapi bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal berserah dan menghormati kekuatan yang lebih besar.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika tarian memasuki fase erupsi. Irama berubah cepat, tubuh bergerak liar, suasana menjadi riuh dan penuh kecemasan. Tidak ada visual letusan, tidak ada narasi verbal. Semuanya disampaikan lewat bahasa tubuh. Penonton tidak diajak menonton bencana, tetapi merasakan ketegangan yang pernah dialami warga. Namun Gedrug Merapi tidak berhenti di sana. Seperti kehidupan di lereng gunung, setelah erupsi, ritme kembali tenang. Bertani, beternak, mencari pasir—hidup berjalan lagi, dengan keteguhan yang sama.
Baca Juga:
Kemendes Dorong Desa Bangun Kemitraan dan Kelola Sampah untuk Tingkatkan Ekonomi
Kesederhanaan yang Menjadi Sikap
Kesederhanaan dalam Gedrug Merapi bukan kekurangan, melainkan sikap. Kostum para penari adalah pakaian sehari-hari, bahkan sebagian tampil bertelanjang dada. Tidak ada busana khusus karena yang dipentingkan bukan penampilan, melainkan makna. Properti yang digunakan pun dekat dengan kehidupan warga: tongkat bambu sebagai simbol jojoh untuk menanam benih, kerincing untuk menggambarkan hiruk-pikuk erupsi, dan bunga tabur sebagai lambang peribadatan serta pemuliaan Merapi.
Musik pengiringnya pun lahir dari lingkungan sekitar. Bunyi palu memecah batu, saringan pasir, seng, bendhe, gong, kendang, dan suling menciptakan ritme yang kasar, menghentak, dan sangat membumi. Inilah suara Sidorejo bukan suara panggung, melainkan suara kehidupan.
Sunyi di Tengah Riuh Wisata
Ironisnya, kesenian yang lahir dari kejujuran ini kini semakin jarang disaksikan. Gedrug Merapi tidak lagi menjadi bagian dari denyut budaya sehari-hari. Ia lebih sering muncul dalam ritual tertentu, tampil sesekali, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Wisatawan yang datang ke Sidorejo hampir tak pernah mendengarnya. Mereka mengenal Deles Indah, mengenal jalur treking, mengenal spot camping dengan panorama Merapi. Tetapi sedikit yang tahu bahwa desa ini menyimpan kisah tentang bagaimana manusia bertahan dan berdamai dengan alam.
Promosi wisata Sidorejo selama ini bertumpu pada lanskap dan itu sah. Merapi memang memikat. Namun pariwisata yang hanya menjual pemandangan sering kali meninggalkan cerita manusianya. Gedrug Merapi adalah cerita itu. Sebuah narasi tentang kerja keras, keteguhan, dan spiritualitas warga lereng gunung. Ia menunggu untuk didengar, bukan dengan sorotan lampu, melainkan dengan kesediaan untuk menyimak.











