BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Gempa bumi mengguncang Sumenep, Jawa Timur, pada Selasa (30/9/2025), pukul 23.49 WIB, berdampak pada proses evakuasi korban reruntuhan di Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo.
Getaran gempa menyebabkan pergeseran struktur reruntuhan, sehingga mempersempit ruang gerak korban yang masih bertahan hidup di bawah puing-puing bangunan.
Kepala Subdirektorat Pengerahan Potensi dan Pengendali Operasi Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia Basarnas, Emir Freezer, mengatakan bahwa ruang napas korban di titik A1 menyusut drastis.
Semula, 15 sentimeter menjadi 10 sentimeter, akibat beban bangunan turun karena diguncang gempa.
Baca Juga:
BNPB: 4 Rumah Rusak Akibat Gempa Sumenep, Korban Jiwa Nihil
26 Santri Korban Reruntuhan Bangunan Ponpes di Sidoarjo Masih Dirawat Intensif
“Logikanya, beban semakin turun sementara posisi tubuh korban tidak berubah. Artinya kompresi semakin kuat dan ruang untuk bernapas makin sempit,” kata Emir, Rabu (1/10/2025).
Emir mengungkap bahwa sebelum diguncang gempa, korban di A1 masih bisa menggerakkan kepala dan tangan. Namun setelah gempa, hanya bisa merespons suara tanpa gerakan.
“Kami sempat berusaha menarik tubuh korban, tetapi terhambat pada panggul yang tertekuk. Meski demikian, ia masih bisa merasakan sakit, tanda masih ada aliran darah,” jelas Emir.
Situasi pascagempa memperburuk upaya penyelamatan. Dari tujuh korban yang sebelumnya masih merespons, kini tersisa enam orang.
“Gempa ini membuat kondisi semakin kritis, karena tiap detik ruang hidup korban semakin menipis,” tegas Emir.
(Anisa Kholifatul Jannah)











