JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Akhirnya perak mulai keluar dari bayang-bayang emas dan muncul sebagai aset alternatif yang kinerjanya justru lebih agresif. Lonjakan harga perak yang sangat signifikan menandai perubahan penting dalam lanskap investasi logam mulia.
Sepanjang 2025 berjalan, harga perak tercatat melonjak lebih dari 114 persen dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa.
Performa ini tidak hanya melampaui emas, tetapi juga menegaskan posisi perak sebagai salah satu komoditas dengan performa terbaik di pasar global.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga spot perak berada di kisaran US$61,96 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi di US$62,88 per ons.
Bahkan, sehari sebelumnya perak untuk pertama kalinya berhasil melampaui ambang psikologis US$60 per ons.
Penguatan tersebut tidak terbatas pada pasar spot. Kontrak berjangka perak juga mencatat kenaikan lebih dari 113 persen sepanjang tahun dan kini diperdagangkan stabil di atas level US$61 per ons.
Konsistensi kenaikan di dua pasar ini mencerminkan kekuatan fundamental yang menopang harga perak dalam jangka menengah hingga panjang.
Kombinasi Faktor Fundamental
Lonjakan harga perak tidak terjadi secara tiba-tiba. Kenaikan ini ditopang oleh kombinasi faktor struktural, mulai dari keterbatasan pasokan, meningkatnya permintaan aset lindung nilai, hingga peran perak yang semakin penting sebagai logam industri strategis.
Dalam konteks ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, perak mulai kembali dilirik sebagai aset pelindung nilai yang relatif terjangkau dibandingkan emas.
Managing Director Solomon Global, Paul Williams, menilai daya tarik perak terletak pada karakter gandanya. Di satu sisi, perak berfungsi sebagai penyimpan nilai ketika volatilitas meningkat. Di sisi lain, perak merupakan komponen vital dalam berbagai sektor industri modern.
Williams menilai, bagi investor yang merasa harga emas semakin sulit dijangkau tetapi tetap ingin memperoleh eksposur terhadap siklus kenaikan logam mulia, perak menawarkan alternatif yang rasional.
Meski demikian, ia menekankan bahwa peningkatan volatilitas adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan seiring naiknya minat pasar.
Peran Strategis di Era Transisi Teknologi
Permintaan industri menjadi salah satu pendorong utama penguatan harga perak. Logam ini digunakan secara luas dalam panel surya, kendaraan listrik, perangkat elektronik, hingga infrastruktur pusat data dan kecerdasan buatan.
Transformasi energi dan digitalisasi global menjadikan perak sebagai bahan baku strategis dengan permintaan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Silver Institute memperkirakan permintaan industri perak global akan terus tumbuh hingga 2030. Dalam laporan terbarunya, lembaga tersebut menyoroti keunggulan konduktivitas listrik dan termal perak yang semakin relevan bagi perkembangan teknologi modern.
Sektor energi terbarukan, kendaraan listrik beserta infrastrukturnya, serta pusat data dan AI diproyeksikan menjadi kontributor utama pertumbuhan permintaan dalam lima tahun ke depan.
Kombinasi antara pertumbuhan permintaan industri dan keterbatasan pasokan menciptakan ketidakseimbangan struktural di pasar perak. Kondisi ini memperkuat fundamental harga dan membuka ruang bagi kelanjutan tren kenaikan.
Baca Juga:
Menuju Level US$100 per Ons?
Optimisme terhadap prospek perak juga tercermin dari proyeksi harga jangka menengah. Paul Williams kembali menegaskan pandangannya bahwa harga perak berpotensi menembus level US$100 per ons. Proyeksi tersebut pertama kali ia sampaikan saat harga perak masih berada di kisaran US$50 per ons.
Menurut Williams, lonjakan sekitar 25 persen hanya dalam satu bulan terakhir menunjukkan bahwa arah pergerakan harga masih konsisten dengan proyeksi tersebut.
Ia menilai setiap koreksi harga yang terjadi lebih bersifat jeda sementara dibandingkan pembalikan tren, mengingat struktur pasar yang masih ketat. Prospek perak pada 2026, menurutnya, tetap sangat kuat.
Pandangan serupa disampaikan Chief Strategy Officer BNP Paribas Fortis, Philippe Gijsels. Ia menilai kombinasi undervaluasi historis, defisit pasokan berkepanjangan, dan gelombang revolusi industri baru menjadi katalis yang jarang terjadi secara bersamaan.
Meski optimistis, Gijsels mengingatkan bahwa aksi ambil untung berpotensi memicu volatilitas tinggi sebelum perak benar-benar mencapai level tiga digit.
Relasi Perak dan Emas
Sepanjang tahun ini, perak berhasil mengungguli emas, meskipun emas sendiri tengah mencetak rekor baru dengan kenaikan sekitar 60 persen secara year-to-date. Rasio emas-perak kini berada di kisaran 68, terendah sejak 2021. Angka ini mendekati rata-rata historis pasca 1971 yang berada di sekitar 66.
Russ Mould, Direktur Investasi AJ Bell, menilai bahwa meski selisih harga emas terhadap perak semakin menyempit, perak masih terlihat relatif murah dibandingkan emas.
Secara historis, reli besar perak bahkan pernah mendorong rasio emas-perak ke bawah level 40, menunjukkan potensi ruang kenaikan yang masih terbuka.











