JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Hyundai Motors Indonesia memperkuat layanan purna jualnya melalui inisiatif Hyundai Promise, sebuah platform jual-beli mobil bekas bersertifikat. Melalui sertifikasi ini, jenama asal Korea Selatan itu menjamin bahwa setiap unit mobil bekas dari mereka menjanjikan harga jual tinggi.
Program ini sebagai jawaban dari Hyundai, untuk memberikan rasa aman dan transparansi bagi pelanggan, termasuk pemilik kendaraan listrik seperti Hyundai Ioniq 5.
General Manager Hyundai Solusi Mobilitas, Wahyu Seto, menjelaskan bahwa seluruh produk kendaraan roda empat mereka yang dipasarkan melalui platform resmi Hyundai Promise telah menjalani pemeriksaan menyeluruh dan menerima sertifikasi langsung dari agen pemegang merek (APM).
“Semua yang sudah naik listing itu sudah terkurasi dan siap. Yang di online sudah tersertifikasi. Itu official Hyundai Promise,” ujar Seto dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (16/10/2025).
Ia menegaskan bahwa program ini juga mengedepankan transparansi harga, sehingga konsumen tak perlu khawatir terkait perbedaan harga antara pembelian tunai dan kredit.
BACA JUGA:
Tambah Investasi Rp3 Triliun, Xiaomi Siap Produksi Mobil Listrik di Indonesia
“Kami pernah menemui konsumen yang merasa harga di Hyundai Promise lebih mahal. Tapi setelah dihitung dengan skema leasing, total pembayarannya ternyata sama, bahkan DP di tempat lain lebih besar. Harga dengan kualitas yang oke, customer harusnya merasa aman,” jelas Seto.
Untuk kendaraan listrik, proses pengecekan dilakukan dengan lebih cermat dibanding mobil bermesin konvensional. Hyundai menerapkan inspeksi menyeluruh dengan standar 100 titik pemeriksaan, termasuk evaluasi kondisi kesehatan baterai atau State of Health (SoH).
“Semua baterai kami pastikan memiliki kondisi di atas 95 persen,” kata Seto.
Selain itu, Seto juga membagikan tips kepada pemilik mobil listrik agar nilai jual kembali kendaraan tetap terjaga. Ia menyarankan agar pemilik melakukan servis berkala di bengkel resmi, menghindari pengisian daya berlebihan, serta tidak menunggu baterai di bawah 20 persen sebelum melakukan pengisian ulang.
“Perawatan berkala di bengkel resmi itu penting. Hindari pengisian daya berlebihan (overcharge) dan usahakan jangan menunggu daya baterai di bawah 20 persen sebelum diisi ulang,” katanya.
Menurut Seto, permintaan terhadap mobil listrik bekas, terutama model Ioniq 5, cukup tinggi di platform Hyundai Promise.
“Setelah banyak yang datang langsung, ternyata yang mencari EV terutama Ioniq 5 itu banyak sekali. Mobil bekas dengan kilometer rendah seperti ini sulit ditemukan di pedagang lain,” ujarnya.
Selain Ioniq 5, Hyundai Promise juga menawarkan berbagai model lain seperti Ioniq 6, Tucson, hingga Santa Fe. Beberapa unit Santa Fe merupakan kendaraan operasional yang telah melalui proses refurbish serta sertifikasi ulang agar layak dijual kembali.
Hyundai juga berharap bahwa melalui program ini, nilai jual kembali (residual value/RV) kendaraan mereka di pasar mobil bekas bisa meningkat.
“Sebelum 2020, RV Hyundai sekitar 50 persen. Dengan adanya program RV Guarantee (RVG), kini sudah mendekati 70 persen. Harapannya, melalui Hyundai Promise nilai ini bisa terus naik,” ujarnya.
Di sisi lain, perwakilan Hyundai, Nina, menegaskan komitmen perusahaan terhadap kepuasan konsumen dengan memberikan garansi tambahan hingga lima tahun. Ia juga mengimbau agar pemilik mobil listrik tidak terlalu sering menggunakan fitur fast charging untuk menjaga usia baterai.
“Ini bentuk komitmen kami terhadap kepuasan pelanggan. Untuk mobil listrik, kami juga mengimbau agar penggunaan fast charging diminimalkan, seperti halnya baterai ponsel yang perlu dijaga siklusnya,” tuturnya.
(Saepul)











