BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Musim 2025 bukan penutup ideal bagi Iga Swiatek, namun petenis Polandia itu tetap menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling konsisten di turnamen WTA. Meski gagal menuntaskan musim dengan manis setelah disingkirkan Amanda Anisimova di WTA Finals Riyadh, Swiatek tetap mengakhiri tahun dengan tiga gelar, termasuk gelar Wimbledon pertamanya, tonggak besar dalam kariernya.
Di balik capaian itu, terhampar satu masalah klasik yang semakin terasa: jadwal tenis yang terlalu padat. Beban kompetisi yang menumpuk membuat Swiatek tak mendapat waktu cukup untuk mengisi ulang tenaga maupun memperbaiki aspek teknis permainannya.
Pelatihnya, Wim Fissette, mengungkapkan bahwa mereka telah menyusun pendekatan baru untuk menghadapi kalender musim 2026 yang juga diprediksi akan sama padatnya.
Fissette menjelaskan bahwa sejak pertengahan tahun, Swiatek hampir tak punya jeda untuk memulihkan diri maupun melakukan perbaikan teknis signifikan.
“Kami sudah membahas ini. Setelah Wimbledon, ada Amerika Utara, lalu istirahat sebentar, lalu perjalanan panjang ke Asia,” ujar Fissette dalam wawancara dengan Program Tenisowy, dikutip Sabtu (15/11/2025).
“Semakin banyak pertandingan yang Anda mainkan, semakin sedikit waktu berlatih. Terakhir kali kami punya dua pekan untuk perbaikan teknis adalah sebelum Wimbledon dan hasilnya waktu itu luar biasa,” ucapnya.
Baca Juga:
Iga Swiatek Apresiasi Perlindungan WTA Usai Alami Insiden di Miami Open
Swiatek memang sempat mengambil waktu istirahat usai semifinal French Open, dan keputusan itu terbukti tepat, ia tampil brilian di musim grass-court hingga meraih gelar Wimbledon.
Fissette menekankan bahwa Swiatek, yang baru berusia 24 tahun, masih berada dalam fase penting perkembangan. Untuk mempertahankan level teratas, ia membutuhkan waktu latihan yang berkualitas, bukan sekadar pertandingan beruntun.
“Untuk berkembang, kami butuh waktu. Bagaimana jadwal 2026 nanti? Tidak ada yang pasti. Banyak bergantung pada performanya. Jika ia juara, jadwal berubah; jika kalah awal, juga berbeda,” jelas Fissette.
Menariknya, meski hanya mengangkat tiga gelar musim ini, Swiatek tetap sangat konsisten, ia mencapai perempatfinal atau lebih di 11 dari 14 turnamen WTA 1000 atau level tinggi lainnya.
“Kami merasa tidak punya cukup waktu untuk berlatih, ataupun memulihkan fisik dan mental. Itu menjadi pelajaran penting dari musim ini,” imbuhnya.
Meski tidak akan melakukan perubahan ekstrem, tim Swiatek kini mempertimbangkan untuk lebih selektif dalam mengikuti turnamen di 2026.
“Melewatkan satu turnamen bisa memberikan perbedaan besar.Semua tergantung bagaimana perasaannya, hasilnya, dan ritme performanya,” tukas Fissette.
(Budis)











