BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kembali mengalami hari kelam pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Tekanan jual yang belum pernah terjadi sebelumnya memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk Kembali mengaktifkan mekanisme “trading halt” atau pembekuan perdagangan sementara seetelah indeks Utama nasional tersebut terjun bebas.
Pada pembukaan sesi pagi, sentimen negatif global dan domestik langsung menghantam lantai bursa. Dalam Waktu kurang dari 30 menit, IHSG ambruk hingga menyentuh level kritis 7.654, mencatatkan koreksitajam sebesar 8% dari penutupan hari sebelumnya. sesua regulasi auto rejection, BEI segera menghentikan perdagangan pada pukul 09:27 WIB selama 30 menit penuh untuk meredam kepanikan investor.
Kepanikan Akibat Arus Modal Keluar (Outflow) Masif
Krisis saat ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam pasar terhadap rencana perombakan portofolio indeks global MSCI. Investor asing diperkirakan akan menarik dana mereka secara besar-besaran dari pasar saham Indonesia, menciptakan arus keluar modal (outflow) yang diperkirakan mencapai Rp40 triliun dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memicu panic selling di kalangan investor domestik yang bereaksi berlebihan.
Seorang analis pasar dari Sekuritas XYZ, Budi Santoso, menjelaskan bahwa saat ini pasar sedang mengalami krisis kepercayaan.
“Ini bukan lagi soal fundamental ekonomi, tapi soal psikologis massa. Trading halt adalah alat yang diperlukan untuk mendinginkan kepala investor sejenak,” ujarnya, melalui keterangan tertulis, dikutip Kamis (29/1/2026).
Baca Juga:
IHSG Anjlok 1,14%, Asing Justru Borong Saham-Saham Ini
Kerugian Fantastis dan Dampak ke Sektor Riil
Dampak dari anjloknya IHSG sangatlah signifikan. Dalam kurun waktu empat hari perdagangan terakhir, total kapitalisasi pasar modal Indonesia dilaporkan telah menguap sekitar Rp2.550 triliun. Kerugian ini setara dengan hilangnya nilai beberapa perusahaan raksasa sekaligus.
Meskipun otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan telah mengeluarkan pernyataan yang meminta investor tetap tenang, volatilitas tetap tinggi. Sektor perbankan dan komoditas menjadi yang paling terpukul.
Investor kini memantau ketat apakah indeks mampu bertahan di atas level dukungan psikologis 7.500 saat perdagangan kembali dibuka siang nanti.
(Magang_UIN SGD Bandung/Fauzan Pradipta Rahmanto)









