BANDUNG, TEROPONGEDIA.ID – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa adaptasi iklim harus mendapatkan porsi perhatian yang setara dengan mitigasi dalam negosiasi Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil. Sikap ini kembali disampaikan delegasi RI menjelang penutupan konferensi pada Sabtu (22/11) waktu setempat.
Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ary Sudijanto, mengatakan bahwa Indonesia mendorong kejelasan komitmen pendanaan adaptasi global dalam teks keputusan COP30.
“Indonesia mendorong kejelasan komitmen pendanaan adaptasi global yang wajib tercantum dalam teks keputusan, termasuk mandat tripling pendanaan yang sebelumnya disepakati,” ujar Ary, dikutip dari Antara, Minggu (23/11/2025).
Menurut Ary, hilangnya paragraf mengenai angka pendanaan adaptasi dalam teks terbaru menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Ia menilai absennya komitmen tersebut berpotensi melemahkan arah implementasi global, terutama bagi negara-negara yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.
“Tanpa kejelasan pendanaan, negara-negara rentan akan semakin tertinggal menghadapi krisis iklim yang kian nyata,” tegasnya.
Baca Juga:
Potensi Kredit Karbon Capai 13 Miliar Ton, Indonesia Bisa Cuan Rp127 T per Tahun
Indonesia menekankan bahwa pendanaan adaptasi merupakan fondasi penting agar negara berkembang dapat memperkuat ketahanan pangan, infrastruktur, dan perlindungan terhadap bencana iklim yang semakin sering terjadi.
Selain pendanaan, Indonesia juga menyoroti munculnya definisi progresif gender dalam draf keputusan COP30. Pemerintah menilai penerapan konsep tersebut harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masing-masing negara.
Indonesia menegaskan bahwa pendekatan gender dalam aksi iklim harus bersifat inklusif, namun tetap mempertimbangkan konteks nasional agar implementasinya tidak menimbulkan kesenjangan baru.
Upaya diplomasi Indonesia dilakukan melalui serangkaian pertemuan bilateral dengan Presidensi Brasil. Ary menyebut sebagian besar masukan yang disampaikan Indonesia telah diakomodasi dalam rancangan terbaru keputusan COP30.
COP30 yang berlangsung sejak 10–21 November 2025 sempat mengalami gangguan setelah terjadi insiden kebakaran di zona biru pada Kamis (20/11). Sejumlah agenda negosiasi pun tertunda, membuat penutupan konferensi diundur hingga Sabtu (22/11).
Meski demikian, Indonesia berharap hasil akhir COP30 dapat memberikan arah implementatif yang lebih kuat, terutama terkait pendanaan adaptasi iklim yang selama ini dinilai masih tertinggal dibanding komitmen mitigasi.
(Budis)











