ACEH, TEROPONGMEDIA.ID – Keterbatasan akses air bersih yang dialami warga Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang, kini mulai teratasi berkat inovasi teknologi yang dikembangkan oleh mahasiswa melalui program pengabdian masyarakat. Mereka menghadirkan instalasi air bersih dan air siap minum sebagai solusi nyata untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pascabanjir yang berdampak pada kualitas sumber air setempat.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Program Mahasiswa Berdampak yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yang mendorong peran aktif mahasiswa dalam menghadirkan solusi teknologi tepat guna bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa membangun dua unit instalasi pengolahan air yang mampu memproduksi hingga 2.000 galon air per hari. Air baku yang berasal dari sumber lokal seperti sungai dan sumur warga diolah melalui sistem filtrasi berlapis, mulai dari proses adsorpsi menggunakan karbon aktif, pasir silika teraktivasi, dan media penyaring khusus, hingga teknologi membran ultrafiltrasi yang mampu menyaring partikel mikro, bakteri, dan koloid berbahaya.
Untuk memastikan keamanan konsumsi, sistem ini juga dilengkapi teknologi sterilisasi ultraviolet (UV), sehingga air yang dihasilkan tidak hanya layak digunakan, tetapi juga aman untuk dikonsumsi langsung.
Baca Juga:
Shredtics, Inovasi Mahasiswa UM: Alat Cacah Plastik Portabel Ramah Lingkungan
Dosen pembimbing tim mahasiswa, David Bahrim, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kondisi riil yang dihadapi warga pascabanjir.
“Sumber air masyarakat sebelumnya mengalami penurunan kualitas yang cukup serius, baik dari sisi kejernihan maupun kandungan zat terlarut. Instalasi ini kami rancang sebagai solusi jangka panjang agar warga bisa mendapatkan air yang layak dan aman setiap hari,” katanya, dikutip dari laman resmi kemendiktisaintek, Sabtu (28/2/2026).
Ia menambahkan, program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik instalasi, tetapi juga pada aspek keberlanjutan.
“Kami juga memberikan pelatihan kepada warga dan kelompok tani setempat agar mereka mampu mengoperasikan serta merawat sistem ini secara mandiri. Tujuannya supaya fasilitas ini tetap berfungsi optimal dalam jangka panjang,” tambahnya.
Salah satu warga Kampung Landuh mengaku sangat terbantu dengan hadirnya instalasi tersebut.
“Sebelumnya kami harus mengambil air dari sumber yang kualitasnya tidak selalu bagus, apalagi setelah banjir. Sekarang air bersih dan air minum jauh lebih mudah diakses. Ini sangat membantu kehidupan sehari-hari kami,” ungkapnya.
Program ini menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada dunia akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang nyata. Kehadiran instalasi air bersih di Kampung Landuh memperlihatkan bahwa kolaborasi antara pendidikan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dapat melahirkan solusi konkret bagi persoalan mendasar seperti akses air layak konsumsi.
Dengan adanya inovasi ini, warga Kampung Landuh kini memiliki akses yang lebih baik terhadap air bersih dan air siap minum, sekaligus membuka harapan baru bagi peningkatan kualitas hidup, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan di Aceh.











