BANDUNG, TEROPONGMEDI.ID — Industri peternakan yang menjadi tulang punggung penyedia protein hewani, kini menghadapi tantangan serius dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, khususnya gas metana (CH₄).
Gas yang dihasilkan dari proses pencernaan ruminansia ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menyebabkan hilangnya 3–17 persen energi dari pakan ternak, dengan produksi metana mencapai 250–500 liter per hari per ekor.
Menjawab permasalahan ini, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi berbasis nanopartikel zinc oxide (ZnO) dari bahan alami, yaitu ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri). Inovasi ini diberi nama PhylloZinc UGM.
“Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan emisi gas metana dari ternak ruminansia dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan berbasis teknologi hijau,” ujar Catherine Noor, Ketua Tim PKM-RE PhylloZinc UGM, melansir laman UGM.
Tim ini merupakan kolaborasi lintas fakultas yang terdiri dari Catherine Noor (Fakultas Peternakan 2023), Zahwa Tsuroyya A. Z. (Fakultas Biologi 2023), Rona Ayyu H. (Fakultas Kedokteran Hewan 2023), dan Ahmad Rizal Riswanda D. (Fakultas Peternakan 2022), di bawah bimbingan Dr. Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc.
Menurut Ahmad Rizal, penggunaan daun meniran sebagai bahan utama dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki kandungan flavonoid tinggi yang mendukung proses green synthesis.
“Kami berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi emisi metana yang masih menjadi isu utama dalam industri peternakan,” katanya.
Proses Sintesis dan Uji Laboratorium
Tim PhylloZinc berhasil memproduksi ZnO berukuran nano dalam bentuk bubuk dan larutan. Proses sintesis ini dilakukan secara ramah lingkungan dan dilanjutkan dengan pengujian karakteristik menggunakan alat spektrofotometer, PSA, XRD, dan SEM.
Uji lebih lanjut dilakukan secara in vitro di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM, untuk mengetahui efektivitas pakan aditif ini terhadap mikroba dalam sistem pencernaan ruminansia.
“Kami menguji cairan rumen untuk melihat pengaruh nanopartikel terhadap protein mikrobia, ammonia, fermentasi asam volatil (FVA), pH rumen, serta analisis molekuler menggunakan RT-PCR,” jelas anggota tim, Jesslyn Beatrice.
Penelitian ini mendapat dukungan dari Belmawa Kemendikbudristek dan UGM, serta berlangsung selama empat bulan.
Baca Juga:
“Bawal Cipanjalu”: Inovasi Mahasiswa UHS Ubah Waluh Siam Jadi Cemilan Balado Bernilai Tinggi
Celup Puting Daun Sirih, Inovasi Mahasiswa IPB untuk Peternak Sapi Perah
Dengan pendekatan multidisipliner, inovasi ini tidak hanya fokus pada produktivitas ternak, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi metana dan pengendalian pemanasan global.
“Pengembangan nanopartikel ZnO hijau dari daun meniran ini merupakan langkah strategis menuju peternakan modern yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tutup Jesslyn.
(Virdiya/Aak)











