BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Penyanyi papan atas dunia, Taylor Swift, tengah menghadapi kritik tajam dari penggemarnya sendiri setelah dituding memanfaatkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk materi promosi album barunya, The Life of a Showgirl.
Kontroversi ini dianggap ironis, mengingat Swift dikenal dengan penolakannya terhadap penyalahgunaan AI yang dianggap mengancam hak seniman.
Kejanggalan Visual
Isu ini mencuat dari kampanye promosi album yang melibatkan game perburuan petunjuk global bertajuk “Orange Door.” Penggemar diminta mencari kode QR di 12 kota yang kemudian mengarahkan mereka ke video-video singkat.
Namun, bukannya terkesima, para penggemar justru menemukan kejanggalan visual yang diyakini sebagai ciri khas hasil render AI.
Dalam klip tersebut, ditemukan ketidaksesuaian seperti gambar rumah yang buram dalam bingkai, buku dengan huruf yang tidak lengkap, hingga detail aneh pada anggota tubuh, seperti jari seorang yang tampak menyatu dengan benda yang sedang dipegangnya.
Kejanggalan ini membuat penggemar percaya bahwa video-video tersebut dibuat dengan AI, bukan oleh kru visual profesional, yang menimbulkan kekecewaan besar.
“Taylor has literally used ai in EVERY of these tloas little visuals this is literally so bad considering she’s the biggest artist out there right now. why a billionaire spending YEARS defending their art would need this? terribly disappointing. and there’s more. (Taylor benar-benar menggunakan AI di SETIAP visual kecil ini, Ini benar-benar buruk mengingat dia adalah seniman terhebat saat ini. Mengapa seorang miliarder yang menghabiskan BERTAHUN-TAHUN membela seni mereka membutuhkan ini? Sangat mengecewakan. Dan masih banyak lagi)” tulis seorang pengguna akun X @dietforyous.
Melawan Prinsip
Tuduhan penggunaan AI ini terasa sangat menampar karena bertolak belakang dengan citra Taylor Swift sebagai pembela hak cipta dan kepemilikan karya.
Taylor pernah secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya terhadap penyebaran informasi palsu dan bahaya deepfake AI, apalagi setelah dirinya sendiri menjadi korban teknologi tersebut di masa lalu.
Bagi para penggemar, tindakan dugaan menggunakan AI untuk promosi ini dianggap sebagai “jalan pintas murah” yang merusak komitmennya terhadap proses kreatif.
“Her being this big and using ai is so sad for editors bc she can at least afford these type of visuals unlike indie artists yet still doesn’t pay actual people to do this work, this will just encourage other artists to use ai. (Dia sebesar ini dan menggunakan AI sangat menyedihkan bagi editor karena dia setidaknya mampu membeli visual jenis ini tidak seperti artis indie namun masih tidak membayar orang sungguhan untuk melakukan pekerjaan ini, ini hanya akan mendorong artis lain untuk menggunakan AI)” tulis seorang pengguna x dengan username @daydreamrem.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Taylor Swift belum memberikan keterangan resmi untuk mengonfirmasi atau membantah tuduhan penggunaan AI dalam materi promosi untuk The Life of a Showgirl.
Kontroversi ini pun menambah daftar panjang perdebatan etika penggunaan AI di industri hiburan yang melibatkan seniman berkaliber tinggi.
(Siesiliana HD/Magang UNLA/Aak)










