SURABAYA, TEROPONGMEDIA.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama Juli–Agustus 2026, pesan kuat soal pentingnya menjaga kerukunan internal terus mengemuka. Pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan, KH Idris Hamid, menegaskan bahwa persatuan harus menjadi prioritas utama dalam agenda besar Nahdlatul Ulama tersebut.
Menurut KH Idris Hamid, kerukunan tidak cukup hanya bersifat formal, tetapi harus lahir dari kesadaran dan ketulusan hati seluruh pengurus. Pesan itu disampaikan melalui Sekretaris PWNU Jawa Timur, HM Faqih.
Ia menilai forum-forum internal sebelum muktamar memiliki peran strategis untuk merumuskan mekanisme pemilihan yang sehat dan tidak memicu konflik. Hal ini dinilai penting agar hasil muktamar dapat diterima oleh seluruh elemen organisasi.
Baca Juga:
Izin Tambang NU Masuk Proses Administrasi ESDM
Sebagai bentuk keseriusan, PWNU Jawa Timur telah membentuk tim program guna mempersiapkan berbagai kebutuhan menuju muktamar. Bahkan, Jawa Timur juga menyatakan kesiapan apabila dipercaya menjadi tuan rumah.
Dukungan terhadap percepatan muktamar juga datang dari Barikade Gus Dur. Wakil Ketua Umum DPP-nya, Sudarsono Rahman, menilai pelaksanaan muktamar menjadi momentum penting untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di tubuh NU.
“Ini menandakan ada kesadaran bahwa konflik yang terlalu lama tidak menguntungkan bagi jam’iyah, jamaah, maupun bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Abdul Matin Djawahir, mengajak seluruh pengurus memperkuat ukhuwah melalui tradisi silaturahmi. Salah satunya lewat kegiatan Syawalan dengan mengunjungi para kiai dan pesantren.
Rangkaian agenda tersebut ditutup dengan tradisi Telassan Ketoppak (Lebaran Ketupat) serta rapat rutin di kantor PWNU Jatim pada 31 Maret, sebagai bagian dari upaya mempererat kebersamaan menjelang muktamar.