JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Perusahaan batik ternama asal Cirebon, BT Batik Trusmi, mengalami kerugian mencapai Rp 1 miliar setelah kerja sama naming rights Stasiun Cirebon dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dibatalkan secara mendadak.
Padahal, acara peluncuran resmi sudah dijadwalkan pada 1 Oktober 2025 yang bertepatan dengan Hari Batik Nasional, seluruh persiapan telah selesai dilakukan.
“Vendor sudah dibayar, panggung sudah berdiri, bahkan undangan untuk kementerian dan tamu luar kota sudah disebar. Semua biaya itu akhirnya hangus,” kata pemilik BT Batik Trusmi, Sally Geovanny, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/10/2025).
Pembatalan Mendadak Dua Hari Sebelum Acara
Sally menyatakn, pembatalan sepihak itu disampaikan dua hari sebelum acara, tepatnya pada 29 September 2025. Keputusan itu disebut datang langsung dari direksi PT KAI tanpa penjelasan rinci.
Padahal, kata Sally, inisiatif kerja sama justru berasal dari PT KAI sendiri yang pada Mei 2024 menawarkan skema kerja sama naming rights selama tiga tahun dengan nilai kontrak Rp 3 miliar.
“Konsepnya bukan mengubah nama resmi stasiun, melainkan menambahkan elemen branding menjadi Stasiun Cirebon BT Batik Trusmi. Di dunia bisnis, model seperti ini lumrah dilakukan,” ujarnya.
Dugaan Intervensi Pihak Eksternal
Sally menduga pembatalan mendadak itu terjadi karena adanya tekanan dari pihak luar, termasuk LSM dan ormas tertentu yang menolak program tersebut.
“Mereka mengancam akan menggelar demonstrasi dan menyebarkan tuduhan tidak masuk akal, seperti kami mengambil alih saham PT KAI. Padahal, kerja sama ini murni bentuk kolaborasi promosi daerah,” tegasnya.
Menurut Sally, langkah yang dilakukan BT Batik Trusmi tidak semata urusan komersial, melainkan upaya mendorong pariwisata dan ekonomi lokal Cirebon.
“Kalau stasiun punya nama Batik Trusmi, dampaknya luar biasa untuk pengrajin, hotel, sampai UMKM kuliner di Cirebon,” tambahnya.
Sally menuturkan selain kerugian finansial, pembatalan itu juga menimbulkan dampak reputasi bagi perusahaan dan kota Cirebon.
“Yang paling menyedihkan adalah sikap tidak profesional. Kami ingin membangun Cirebon, bukan mencari keuntungan pribadi,” ujarnya.
Baca Juga:
KAI Bakal Ganti 100% Tiket Penumpang KA Purwojaya Anjlok, Ini Caranya
BRIN Ungkap Asal Mikroplastik Air Hujan di Jakarta, Didominasi Pakaian Sintetis dan Plastik
Sejak berdiri pada 2006, BT Batik Trusmi telah tumbuh menjadi sentra batik terbesar di Indonesia, mempekerjakan lebih dari 1.300 karyawan dan menggandeng sekitar 600 pengrajin rumahan.
Perusahaan ini juga memegang rekor MURI sebagai toko batik terluas di Indonesia dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif daerah.
Sally pun berharap ke depan, kerja sama antara pihak BUMN dan sektor swasta tidak mudah terhambat oleh tekanan eksternal atau kepentingan kelompok tertentu.
“Cirebon punya potensi besar. Kami ingin tetap berkontribusi untuk mengharumkan nama daerah dan memperkuat ekonomi masyarakat,” tutupnya.











