BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Tragedi ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025 lalu, mengguncang publik dan memunculkan kekhawatiran baru tentang keamanan serta kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah. Di balik insiden itu, para akademisi menilai akar permasalahan mungkin lebih dalam dari sekadar tindakan impulsif yakni menyangkut luka psikologis akibat perundungan (bullying) dan paparan budaya kekerasan dari media.
Akademisi psikologi asal Bandung, Billy Martasandy, menilai tindakan ekstrem remaja sering kali tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, perasaan tertekan akibat perundungan yang terus-menerus bisa memicu ledakan emosi ketika tidak ada ruang sehat untuk menyalurkan perasaan tersebut.
“Bullying bukan hanya kata-kata kasar di sekolah. Bullying bisa mengikis harga diri dan membentuk keyakinan keliru seperti ‘tak ada yang peduli pada saya’ atau ‘saya tidak punya jalan keluar’. Ketika kondisi ini dibiarkan, individu bisa mencari pengakuan melalui cara ekstrem,” kata Billy, Senin (10/11/2025).
Baca Juga:
Usai Dirawat Intensif, 67 Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Bisa Pulang ke Pelukan Keluarga
Ledakan SMA 72 Jakarta, Ditemukan Air Soft Gun ‘Welcome to Hell’
Billy menambahkan, lingkungan sekolah yang abai terhadap kasus bullying memperbesar risiko munculnya perilaku destruktif, baik dari korban maupun pelaku. Minimnya respons guru, teman sebaya, hingga sistem sekolah yang tidak peka dapat memperkuat rasa keterasingan dan kemarahan pada diri remaja.
Selain faktor sosial, Billy juga menyoroti peran paparan budaya kekerasan di media dan tontonan barat. Dirinya menyebut, film atau gim dengan adegan ledakan, balas dendam dan kekerasan kerap membentuk “skrip perilaku” di benak remaja.
“Remaja bisa meniru pola dari media: ketika frustrasi, mereka berpikir untuk meledakkan sesuatu, menghancurkan, atau menunjukkan kemarahan besar. Media menjadi semacam naskah bagi pikiran yang sedang terganggu,” ucapnya.
Meski begitu, Billy menegaskan media bukan penyebab tunggal. Namun, jika dikombinasikan dengan kerentanan psikologis akibat bullying dan minimnya dukungan emosional, maka paparan kekerasan media dapat menjadi pemicu tindakan ekstrem.
“Yang terjadi biasanya bukan satu faktor saja. Ada sinergi yakni pengalaman sosial negatif, paparan kekerasan, lemahnya regulasi emosi dan lingkungan yang tidak suportif. Semua itu berkelindan hingga melahirkan aksi berisiko,” ujarnya.
Dalam konteks kasus di SMA 72, Billy menilai “ledakan” hanyalah manifestasi fisik dari persoalan yang jauh lebih dalam. Dirinya mendorong agar penanganan tidak berhenti pada aspek hukum dan keamanan, melainkan juga menyentuh dimensi psikososial dan budaya sekolah.
Billy pun menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk mencegah kasus serupa:
- Deteksi dan intervensi dini terhadap bullying.
- Pendidikan literasi media agar remaja mampu memilah tontonan dan memahami dampaknya.
- Pelatihan regulasi emosi dan keterampilan coping bagi siswa.
- Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas untuk menciptakan sistem dukungan yang berkelanjutan.
“Kalau kita hanya fokus pada pelaku dan alatnya, tanpa memahami luka yang melatarbelakangi, tragedi seperti ini bisa berulang. Yang kita butuhkan bukan hanya keamanan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis di lingkungan sekolah,” pungkasnya.
Kasus ledakan di SMA 72 Jakarta menjadi pengingat bahwa di balik tindakan ekstrem remaja, sering tersembunyi jeritan batin yang tak terdengar jeritan yang menuntut ruang empati, perhatian dan pemulihan.
(Kyy/_Usk)











