BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung mengimbau masyarakat untuk mengenali gejala campak dan segera melakukan penanganan guna mencegah penularan lebih luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih menjelaskan, gejala utama campak diawali dengan demam tinggi yang kemudian disertai munculnya ruam pada kulit.
“Biasanya diikuti gejala tambahan seperti batuk, pilek, dan mata merah. Kalau ada gejala ini, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia meminta, masyarakat tidak perlu menunggu hingga ruam muncul untuk memeriksakan diri.
“Kalau demam, langsung saja ke puskesmas. Nanti petugas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Selain itu, pasien yang diduga campak dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari untuk mencegah penularan.
“Jangan dibawa keluar rumah. Gunakan masker karena penularannya melalui udara,” ujarnya.
Dadan juga mengingatkan, virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga risiko penularannya sangat tinggi.
Untuk itu, selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta meningkatkan daya tahan tubuh.
“Pencegahan harus dilakukan bersama, mulai dari imunisasi, penggunaan masker, hingga pola hidup sehat,” ungkapnya.
Baca Juga:
Sampaikan Duka Atas Meninggalnya Dokter Asal Cianjur, KDM: Waspada Penularan Campak
Dokter Muda Meninggal Diduga Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
Tekan Risiko Penularan, Dinkes Kota Bandung Ajak Warga Lengkapi Imunisasi Campak
Dinkes Kota Bandung mengajak masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak sebagai langkah utama menekan risiko penularan penyakit yang kini tengah mengalami peningkatan kasus.
Pencegahan melalui imunisasi menjadi kunci utama dalam melindungi anak-anak dari campak yang sangat menular.
“Campak ini penyakit yang sangat mudah menular, bahkan lebih tinggi dari Covid-19. Satu orang bisa menularkan ke 17 sampai 18 orang. Tapi ini bisa dicegah dengan imunisasi,” ujarnya.
Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 248 kasus suspek campak di Kota Bandung, dengan 28 kasus di antaranya telah terkonfirmasi. Seluruh pasien dilaporkan telah membaik tanpa adanya kasus kematian.
Dadan mengungkapkan, sebagian besar kasus terjadi pada kelompok balita, dan sekitar 69 persen di antaranya belum mendapatkan imunisasi campak.
“Ini menunjukkan pentingnya imunisasi. Mayoritas kasus yang kita temukan justru terjadi pada anak yang belum diimunisasi,” katanya.
Data Dinkes menunjukkan, cakupan imunisasi campak rubella di Kota Bandung masih belum mencapai target nasional sebesar 95 persen.
Imunisasi dasar campak (MR1) pada bayi usia 9 bulan tercatat sebesar 84,3 persen pada 2024 dan 2025. Sementara imunisasi lanjutan (MR2) pada usia 18 bulan masih lebih rendah, yakni 59,5 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 66,9 persen pada 2025.
Adapun imunisasi pada anak kelas 1 SD berada di angka 87 persen.
“Masih ada kesenjangan antara imunisasi dasar dan lanjutan. Banyak yang menganggap cukup di usia 9 bulan, padahal imunisasi lanjutan di 18 bulan itu wajib,” jelasnya.











