BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menungkap Indonesia berperan penting mempengaruhi harga beras dunia. Hal ini didorong oleh strategi peningkatan produksi dan stabilisasi harga yang konsisten serta berkelanjutan.
Amran menyatakan, pencapaian tersebut adalah bagian besar dari kontribusi petani Indonesia.
“Yang menarik adalah Indonesia berkontribusi menurunkan pangan dunia. Jadi Indonesia, petani Indonesia berkontribusi menurunkan harga beras dari sekitar 650 dolar AS per ton, turun menjadi 371 sekarang,” kata Kepala Bapanas, melansir Antara, Kamis (6/11/2025).
Penurunan harga beras ini tidak lepas dari menguatnya produksi dalam negeri serta keputusan Indonesia untuk tidak melakukan impor beras pada tahun 2025.
“Itu karena Indonesia sebelumnya adalah importir besar. Tiba-tiba Alhamdulillah berkat gagasan besar Bapak Presiden Prabowo, kita menghentikan impor,” ujar Amran.
Adapun berdasarkan data perkembangan harga beras putih lima persen (free on board) dari beberapa negara eksportir beras, rata-rata harga beras dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar pada Januari 2024 masih berada direntang harga 622 sampai 655 dolar AS per metrik ton.
Pada minggu ketiga Desember 2024 di saat Indonesia mengumumkan untuk stop impor beras, harga beras dari 4 negara tersebut di pasar internasional mulai menurun di rentang 455 sampai 514 dolar AS per metrik ton.
Sementara menurut data The FAO All Rice Price Index (FARPI) menyebutkan, indeks di Desember 2024 menurun 1,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 119,2 poin.
Baca Juga:
Mentan Amran Laporkan Produksi Beras 2025 Naik Hingga 4,1 Juta Ton
Jamin Kualitas, Bapanas Pastikan Perputaran Stok Beras Maksimal 6 Bulan
Lebih lanjut, Kepala bapanas yang juga Menteri Pertanian mengatakan, menguatnya produksi beras dalam negeri tidak hanya menopang konsumsi masyarakat tapi juga memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini mencapai 3,8 juta ton.
“Dan berita menarik lainnya, terima kasih Ibu Kepala BPS (Badan Pusat Statistik). Pengumuman BPS kemarin, diprediksi bahwa produksi beras kita di tahun 2025 mencapai 34,77 juta ton. Ini kenaikan tertinggi, stok kita tertinggi. Ini berkat kerja keras kita semua,” kata Amran lagi.
Dari akselerasi produksi beras nasional di tahun ini terdapat selisih lebih atau surplus 4,15 juta ton terhadap produksi beras 2024 yang berada di 30,62 juta ton.
Proyeksi produksi beras Januari-Desember 2025 tersebut juga telah melampaui angka kebutuhan konsumsi beras setahun secara nasional.
Menurut Proyeksi Neraca Beras Tahun 2025 yang disusun Bapanas bersama kementerian/lembaga terkait, kebutuhan konsumsi beras di 2025 berkisar 30,97 juta ton. Dengan begitu, terdapat surplus antara produksi dan konsumsi beras sebesar 3,8 juta ton.
Amran juga mengungkap bahwa kesejahteraan petani padi Indonesia meningkat seiring produksi beras nasional yang mengalami eskalasi.
Mengutip data BPS, indeks harga padi di Oktober 2025 pun terus meningkat dibandingkan awal tahun 2025. Di Januari 2025 indeks tersebut masih berada di 136,78. Lalu di Oktober 2025 meningkat menjadi 146,24.
(Raidi/_Usk)











