JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengingatkan masyarakat bahwa ancaman siber di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Jika sebelumnya serangan siber identik dengan pembobolan sistem besar milik bank atau perusahaan, kini ancamannya justru menyasar rekening pribadi, identitas digital, hingga ponsel yang digunakan setiap hari.
Menurut Nezar, perkembangan teknologi AI telah mengubah cara kerja kejahatan digital, membuat serangan menjadi lebih cepat, lebih rapi, dan sering kali tidak disadari oleh korbannya.
Tak Perlu Klik, Serangan Bisa Terjadi
Nezar menjelaskan, bahwa saat ini masyarakat tidak selalu harus melakukan kesalahan untuk menjadi korban. Salah satu metode baru yang mulai marak adalah zero click attack, yaitu serangan siber yang terjadi tanpa perlu korban mengklik tautan atau mengunduh apa pun.
“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Nezar.
Artinya, hanya dengan menerima pesan tertentu, perangkat bisa terinfeksi program jahat tanpa disadari. Kondisi ini membuat ancaman siber semakin sulit dikenali oleh masyarakat awam.
AI Membuat Kejahatan Digital Lebih Cepat
Nezar menyebutkan, kecerdasan buatan memungkinkan pelaku kejahatan memindai jutaan sistem dalam waktu singkat. Dengan bantuan AI, pelaku bisa memilih target yang dianggap memiliki nilai ekonomi atau data penting.
Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan bahwa kecepatan serangan siber saat ini bahkan lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem pertahanan yang ada.
“Serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.
Penipuan Jadi Lebih Meyakinkan dan Personal
Ancaman siber berbasis AI juga tidak hanya menyerang secara teknis, tetapi menyasar sisi emosional dan psikologis masyarakat. Teknologi AI kini mampu meniru wajah dan suara seseorang dengan sangat meyakinkan.
“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Nezar.
Dalam praktiknya, pelaku bisa menyamar sebagai anggota keluarga, rekan kerja, atau atasan, sehingga korban tidak merasa sedang ditipu.
Baca Juga:
Migrasi Kelelawar dan Burung Dinilai Berisiko Picu Masuknya Virus Nipah ke Indonesia
Password Tak Lagi Sepenuhnya Aman
Nezar juga mengingatkan bahwa sistem keamanan lama, seperti penggunaan kata sandi, perlahan mulai kehilangan efektivitasnya. Perkembangan AI yang dipadukan dengan riset komputasi kuantum berpotensi membuat password mudah ditembus di masa depan.
“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat perlu mulai memahami bahwa keamanan digital bukan lagi soal satu langkah perlindungan saja.
Tidak Ada Ruang Digital yang Benar-benar Aman
Peringatan tersebut disampaikan Nezar saat membuka Workshop Cybersecurity di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian (BPSDMP) Komdigi Yogyakarta, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.
Namun, Nezar menekankan bahwa kesadaran dan kewaspadaan dapat mengurangi risiko menjadi korban.
Pemerintah Dorong Keamanan Sejak Awal
Untuk menghadapi tantangan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) mendorong pendekatan security by design, yaitu menjadikan keamanan sebagai bagian utama sejak awal pengembangan sistem digital.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Nezar.
Melalui penguatan talenta digital dan pembangunan sistem keamanan nasional, pemerintah berupaya melindungi masyarakat agar tetap aman di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.
(Dist)











