Laporan Pandangan Mata: Transformasi Lapas Perempuan Bandung Menjadi Rumah Aman untuk Warga Binaan

-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Dulu, saya merupakan salah satu dari segelintir orang di masyarakat yang percaya bahwa penjara bukan tempat yang nyaman. Raga tertahan di balik jeruji, kebebasan dibatasi oleh peraturan, tidur dan mandi di sel berdesakan dengan tahanan lainnya, hidup berdampingan dengan kriminal si pembunuh atau si pengedar, makanan gak enak, yah intinya, tidak ada kata-kata baik yang bisa mendeskripsikan rasanya hidup di penjara. Namun, semua pikiran negatif saya tentang penjara berubah total ketika berkunjung ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung.

Saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung pada April 2025. Awalnya, datang kesana untuk kebutuhan tugas akhir, tapi ternyata, saya justru mendapatkan pemahaman dan stigma yang terpatahkan bahwa hidup di lapas itu suram dan tidak menyenangkan.

Saya bersama lima teman saya mendapatkan akses untuk keliling lapas oleh pihak lapas. Kami diajak ke dalam ruang kunjungan yang di dalamnya, terdapat beberapa meja dan bangku panjang untuk para pengunjung lapas mengobrol dengan Warga Binaan Pemasyarakatan atau disingkat WBP—sebutan untuk narapidana atau tahanan di lapas— yang mereka kunjungi. WBP yang dikunjungi harus mengenakan rompi oranye dan pengunjung mereka harus menggunakan lanyard dengan tali hijau neon selama masa kunjungan. 

Para pengunjung bisa membawa buah tangan untuk WBP yang dikunjungi. Kami melihat salah satu pengunjung membawa kerupuk untuk WBP yang dikunjunginya. Selain itu, di ruang kunjungan disediakan juga area bermain anak bagi pengunjung yang sedang membawa anak. Ruangan tersebut cukup luas dan dilengkapi dengan berbagai jenis mainan playground.  

Selanjutnya, kami kemudian diarahkan oleh petugas lapas untuk masuk ke area komunal WBP. Area kantor lapas dan komunal WBP berbeda gedung juga dipisahkan oleh jalan kecil berwarna hijau. Akses masuk ke area komunal WBP harus melalui pintu besi yang dijaga oleh pos keamanan di sisi pintu. Petugas lapas di pos keamanan banyaknya perempuan, menyesuaikan dengan penghuni lapas yang dikhususkan untuk perempuan. Hal ini juga untuk menjaga kenyamanan bagi penghuni.

Kami melihat area lapas terdiri dari dua blok utama (Edelweiss dan Flamboyan); lapangan; ruangan pembinaan; tempat ibadah; bilik layanan video call; taman dan kebun; tempat penatu (laundry); serta aula serbaguna. Pilar-pilar yang menyokong blok tahanan dilukis dengan berbagai motif, salah satunya motif batik, menggunakan  warna cerah, seperti merah, kuning, biru, hingga merah muda yang kontras dengan warna abu blok tahanan.

Terdapat banyak ruang pembinaan atau pos kerja di area steril lapas. Lapas memberikan fasilitas berupa pos kerja yang bertujuan sebagai program pembinaan WBP. Mereka diharuskan untuk menekuni salah satu atau beberapa keterampilan, seperti salon/kecantikan, pembuatan batik, bakery, sulam, perca, dapur (membuat makanan harian), rajut, dan sebagainya. Melalui asesmen yang dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas), WBP dikelompokkan ke dalam program binaan yang cocok dengan minat dan bakat mereka. 

Bentuk apresiasi yang diberikan lapas untuk para WBP adalah hasil kerajinan perca, rajutan, dan batik mereka dipertunjukkan di salah satu festival kerajinan bernama Indonesian Prisons Products and Art Festival (IPPA Festival). Produk kerajinan hasil WBP diperjualkan di e-commerce

Kami mengunjungi satu per satu pos kerja tersebut. Ruang pertama yang kami kunjungi adalah salon yang dikelola oleh para WBP. Saya tidak menyangka ternyata di dalam lapas ada salon! Fasilitas di salon tersebut disediakan lengkap, mulai dari kursi dan cermin untuk menata rambut, tempat cuci rambut, berbagai alat styling seperti pengering rambut, gunting, sisir, alat-alat perawatan kuku, hingga alat facial. Rentang harganya dari 20 ribu—700 ribu dan pembayaran menggunakan kartu elektronik. Pengunjung salonnya siapa? Jelas, pengunjungnya sesama WBP yang ingin merias diri dan petugas perempuan. Bahkan, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Bandung langganan perawatan facial di salon ini. Hasilnya memuaskan, tidak kalah dengan hasil dari perawatan di klinik dengan harga yang tentunya jauh lebih murah.

Kami juga mengunjungi pos kerja lainnya yaitu pos kerja yang dinamakan Lamoria bakery, dimana para WBP diberikan fasilitas untuk menyalurkan hobi baking. Berbagai jenis kue dan roti tersebut kemudian dijual di dalam Lapas bahkan disalurkan ke luar Lapas, kepada pihak eksternal yang sudah bekerja sama dengan lapas. Kami bertemu dengan beberapa WBP yang sedang masak dan mengolah adonan di dapur bakery. Teman saya membeli salah satu produk roti putih Lamoria Bakery yang dijual di kisaran harga 20–30 ribu.

Selanjutnya, kami berkunjung ke pos kerja lukis dan konveksi. Di ruangan tersebut, kami melihat beberapa WBP sedang asyik menggambar di atas kain dan melukis batik. Beberapa produk hasil lukisan batik dan kerajinan dipajang di etalase tersedia di ruangan tersebut. Ada kerajinan tas rajut, sendal rajut, kerajinan souvenir, pakaian, bantal, karya sulam, dan masih banyak kerajinan kreatif lainnya. 

Meskipun mereka adalah warga yang terbukti melanggar hukum dan sedang menjalani masa pidana, negara wajib memfasilitasi hak mereka di dalam lapas. Hal ini dikonfirmasi dengan wawancara ahli hukum penitensier yang menyebutkan adanya standar minimum untuk para terpidana oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang harus diterapkan oleh setiap lapas di seluruh dunia.

Kami juga bertanya tentang pemenuhan hak-hak yang diterima oleh para WBP selama masa pidana dengan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Elka Yuvita.

Ia menjelaskan bahwa LPP Kota Bandung memiliki program pengecekan kesehatan rutin, pos pembinaan terpadu (posbindu) untuk lansia, pos pelayanan terpadu (posyandu) untuk anak WBP yang lahir di lapas, serta poliklinik yang siaga 24/7. Pembalut pun diberikan kepada para WBP sebulan sekali dan telah dimasukkan ke dalam anggaran lapas. Pihak luar juga mengadakan sesi konseling kepada para WBP sebab tidak ada psikiater atau psikolog yang siaga di lapas.

“Setiap hari, kami punya satu dokter umum, dua bidan, dan empat perawat yang standby. Poliklinik buka 24 jam, perawat juga patroli malam hari. Kami sebut tim ini ‘Si Gadis’—singkatan dari Siaga Malam Tenaga Medis,” papar Elka.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Bandung juga sempat mengungkapkan bahwa salah satu tantangan dalam mengelola lapas adalah menjaga mood para WBP. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, LPP Kota Bandung sering mengadakan kegiatan bersama di lapangan lapas, seperti senam kesehatan jasmani (SKJ), olahraga, bahkan lomba antarblok. Selain itu, mereka mengadakan sesi nonton bersama di kegiatan “Bioskop Lamoria” sebulan sekali. 

“Kami punya ‘Bioskop Lamoria’—nonton bareng film di aula. Filmnya bisa request, asal bisa kami dapatkan. Ada juga olahraga, lomba seni, tari, cipta lagu, menyanyi. Lomba bisa antarkamar atau per blok,” ucap Elka.

Ada pun tempat ibadah untuk para WBP, seperti mushola, ruang gereja, dan vihara. Untuk kegiatan besar keagamaan, LPP Kota Bandung mengundang pemuka agama dari pihak luar untuk memimpin ibadah. Namun, ibadah sehari-hari terkadang dipimpin dari WBP yang “dituakan” di sana. 

Melalui observasi, LPP Kota Bandung memiliki perpustakaan dengan buku-buku agama, komik, dan novel fiksi. Perpustakaan ini pun disulap menjadi ruang kelas bagi para WBP yang ingin mengasah keterampilan berbahasa Inggris, Korea, hingga Jerman. Ada pun program “Sekolah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)” yang difasilitasi oleh lembaga pendidikan nonformal untuk memberikan kesempatan belajar bagi WBP yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal (SD, SMP, SMA). 

Sekilas berkunjung ke Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Bandung, stigma buruk bahwa lapas merupakan tempat yang mengekang, suram, dan menyeramkan seketika sirna begitu saja. Ketika kami bertanya ke beberapa WBP, mereka menjawab mereka betah dan nyaman hidup disini. Mereka tidak merasa bosan karena setiap harinya selalu produktif diisi dengan berbagai kegiatan. Mereka juga tidak merasakan tertekan selama berada di dalam lapas, selain karena banyak kegiatan, mereka juga memiliki teman-teman WBP yang bisa dijadikan sebagai tempat cerita dan berkeluh kesah.

Tak sedikit beberapa dari WBP mendapatkan secercah hidayah, menemukan ketenangan diri dan kenyamanan hidup setelah keluar dari lapas. Salah satu mantan WBP yang kami temui di rumahnya di Kabupaten Bandung bernama W (nama samaran), menceritakan sedikit pengalaman hidupnya setelah keluar dari lapas. Ia sekarang menemukan hikmahnya, kalau tidak merasakan tinggal di lapas, dia mungkin sekarang tidak akan tahu rasanya mengenal agama dan tuhannya lebih dalam dan tidak tumbuh keinginan untuk menjaga hubungan lebih baik dengan keluarga. Meskipun pahit untuk diingat, namun Ia tetap berpikir positif bahwa sempat merasakan hidup di lapas merupakan cara tuhan untuk menegurnya, kembali ke jalan yang diridhoi-Nya.

Selalu ada pelajaran dan hikmah baik yang bisa kita petik dalam kehidupan, sekalipun pelajaran tersebut didapatkan dengan tinggal di lingkungan yang tidak pernah disangka.

Penulis:

Kalila Shessa, Zulfa Salman, Nyimas Ratu, Uyun Mubin, Balqis Alisha, dan Rizki Alif

Universitas Padjadjaran

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Spanyol
Prediksi Skor Peru vs Spanyol: La Roja Bidik Kemenangan dalam Laga Uji Coba Internasional
bank bjb Dorong Sport Tourism Lewat Kesuksesan Suroboyo 10K di Kota Surabaya
bank bjb Dukung Sport Tourism dan Gaya Hidup Sehat via Suroboyo 10K di Kota Surabaya
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Cimahi Perkuat Pengelolaan Sampah Tingkat RT
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Cimahi Perkuat Pengelolaan Sampah Tingkat RT
SPMB Kota Bandung
Pendaftaran SPMB Kota Bandung Jenjang SD dan SMP Tahap 1 2026 Dibuka
Pemprov Jabar Raih Penghargaan Pemda Terbaik Penggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting
Pemprov Jabar Raih Penghargaan Pemda Terbaik Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting
Berita Lainnya

1

Jembatan Cirahong, Satu-satunya Jembatan Susun di Indonesia

2

7 Aplikasi Menambah Like TikTok Gratis

3

4

Prediksi Skor Peru vs Spanyol: La Roja Bidik Kemenangan dalam Laga Uji Coba Internasional

5

Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025
Headline
Desk Layanan Terpadu SPMB Kota Bandung Permudah Warga, Semua Kendala Terselesaikan di Satu Tempat
Desk Layanan Terpadu SPMB Kota Bandung Permudah Warga, Semua Kendala Terselesaikan di Satu Tempat
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri