JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Jalur lintas selatan yang menghubungkan Bandung dan Garut sempat lumpuh total akibat longsor di Jalan Raya Nagreg, tepatnya di Kampung Cibajeg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Sabtu (28/3/2026) sore.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 14.30 WIB saat hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan tersebut. Material longsor berupa bebatuan, tanah, hingga batang pohon menutup seluruh badan jalan di kedua arah.
Akibatnya, arus kendaraan dari arah Kadungora menuju Bandung maupun sebaliknya tidak dapat melintas. Jalur strategis itu pun seketika berubah menjadi titik kemacetan total.
Material Longsor Tutupi Dua Arah Jalan
Wakasatlantas Polresta Bandung AKP Agus Budi menjelaskan bahwa longsor berasal dari tebing di atas jalan dan membawa material cukup besar.
“Terjadi longsor dari atas menuju jalan raya yang membawa batu-batu maupun pohon dan ranting. Hal ini sempat menutupi dua jalur kendaraan, baik yang menuju arah Garut maupun sebaliknya,” ujarnya.
Kondisi tersebut memaksa petugas menutup sementara akses jalan demi keselamatan pengguna. Risiko longsor susulan menjadi pertimbangan utama dalam penanganan awal.
Evakuasi Cepat, Jalan Kembali Normal
Respons cepat langsung dilakukan petugas gabungan yang terdiri dari kepolisian, BPBD, dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung. Warga sekitar juga turut membantu proses evakuasi material secara gotong royong.
Upaya pembersihan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Material longsor berhasil disingkirkan sehingga akses jalan kembali bisa dilalui kendaraan.
“Alhamdulillah, berkat penanganan cepat, jalan sudah mulai kembali normal,” kata Agus.
Baca Juga:
Farhan: Okupansi Hotel di Bandung Tembus 90 Persen saat Puncak Lebaran
233 Barang Tertinggal di Kereta saat Lebaran, Nilainya Diperkirakan Capai Rp138 Juta
Meski arus lalu lintas telah kembali normal, aparat mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dinilai dapat memicu longsor susulan di kawasan rawan.
Pengendara diminta lebih berhati-hati saat melintas di jalur tersebut, terutama dengan mengurangi kecepatan dan tidak saling mendahului.
“Kami mengimbau masyarakat agar selalu mengikuti arahan petugas di lapangan,” ujar Agus.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa jalur Nagreg sebagai akses vital antarwilayah masih rentan terhadap bencana alam, terutama saat intensitas hujan tinggi.
(Dist)











