BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah pesatnya modernisasi, keberadaan rumah adat Nusantara kian tergerus perkembangan zaman. Banyak generasi muda tak lagi mengenali bentuk asli rumah adat dari daerahnya sendiri.
Melihat kekhawatiran tersebut, tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan terobosan yang menggabungkan kecerdasan buatan dan pelestarian budaya.
Mereka adalah Muhammad Firdaus, Elzandi Irfan Zikra, dan Dyah Ayu Retnoningsih, yang berhasil menciptakan sistem pengenalan rumah adat berbasis teknologi pengolahan gambar. Inovasi ini mengantarkan mereka meraih Juara 3 Data Science Competition (DSC) LOGIKA 2025 yang digelar Universitas Indonesia.
Ketua tim, Muhammad Firdaus, menjelaskan bahwa proyek tersebut lahir dari kegelisahan melihat minimnya media pembelajaran visual rumah adat yang mudah diakses masyarakat.
“Banyak yang tahu nama rumah adat, tapi tidak tahu bentuknya. Kami ingin menjembatani itu dengan teknologi,” kata Firdaus, dikutip dari laman remsi Unair, Rabu (/3/12/2025).
Tim mengolah ratusan gambar rumah adat dari berbagai daerah, kemudian melatih model kecerdasan buatan agar mampu mengenali ciri-ciri khas tiap bangunan tradisional, mulai dari bentuk atap, pola ukiran, hingga struktur dinding.
Pendekatan pengolahan gambar sederhana dipilih agar sistem tetap stabil meski menghadapi jumlah dataset yang terbatas.
“Kami membersihkan gambar, meningkatkan kualitas foto, lalu menambah variasinya dari berbagai sudut dan kondisi cahaya. Tujuannya agar model siap digunakan dalam situasi nyata,” tambahnya.
Baca Juga:
Shredtics, Inovasi Mahasiswa UM: Alat Cacah Plastik Portabel Ramah Lingkungan
Gummy Joy: Inovasi Permen Jelly Ramah Diabetes Karya Mahasiswa UNAIR
Dalam tahap final, tim menghadapi kesulitan akibat benturan jadwal dua kompetisi besar yang berlangsung dalam hari yang sama. Meski begitu, mereka mampu menyiapkan materi dan pembagian tugas dengan matang sehingga tetap tampil optimal di hadapan juri.
“Kami memastikan semua anggota memahami materi dari hulu ke hilir. Jadi siapa pun bisa menjawab pertanyaan juri tanpa kendala,” ujar Firdaus.
Inovasi ini tidak berhenti pada podium kompetisi. Firdaus menyebut timnya tengah menyiapkan pengembangan lebih lanjut agar sistem tersebut dapat digunakan masyarakat luas.
“Kami ingin membuat aplikasi sederhana yang memungkinkan orang mengenali rumah adat hanya dengan mengunggah foto,” ungkapnya.
Selain memperluas jenis rumah adat yang dapat dikenali, tim juga berencana menambah dataset agar akurasi sistem semakin tinggi.
Dengan langkah tersebut, ketiganya berharap teknologi yang mereka kembangkan dapat menjadi jembatan baru bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan melestarikan kekayaan arsitektur tradisional Indonesia.
(Budis)











